Google ads

Rabu, 24 Agustus 2016

Uji Sitotoksik



Dasar dari uji sitotoksik adalah kemampuan sel untuk bertahan hidup karena adanya senyawa toksik yang diberikan. Kemampuan sel untuk bertahan hidup dapat diartikan sebagai tidak hilangnya metabolik atau proliferasi dan dapat diukur dari bertambahnya jumlah sel, naiknya jumlah protein, atau DNA yang disintesis. Salah satu dari uji sitotoksik adalah mengukur kemampuan sel kanker untuk bertahan hidup karena adanya senyawa uji yang di berikan. Dua metode umum yang digunakan untuk uji sitoksik adalah motode perhitungan langsung (direct counting) dengan motode kolorimetrik, dimana pereaksi MTT ini merupakan garam tetrazolium yang dapat dipecah menjadi Kristal formazan oleh sistem suksinat tetrazolium reduktase yang terdapat dalam jalur respirasi sel pada mitokondria yang aktif pada sel yang masih hidup. Kristal formazan ini memberi warna ungu yang dapat dibaca absorbansinya dengan ELISA reader.
            Penetapan jumlah sel yang bertahan hidup pada uji sitoksik dapat dilakukan berdasarkan dengan adanya kerusakan membran meliputi perhitungan sel-sel yang mengambil (up take) atau dengan bahan pewarna seperti biru tripan. Sedangkan perubahan morfologi diketahui dengan mikroskop elektron.
            Uji sitotoksik digunakan untuk menentukan parameter nilai IC50. Nilai IC50 menunjukan nilai konsentrasi yang menghasilkan hambatan poliferasi sel sebesar 50% dan menunjukan potensi ketoksikan suatu senyawa terhadap sel. Nilai ini merupakan patokan untuk melakukan uji pengamatan kinetika sel. Nilai IC50 dapat menunjukan potensi suatu senyawa sebagai sitotoksik. Semakin besar harga IC50 maka senyawa tersebut semakin tidak toksik. Akibat dari uji sitotoksik dapat memberiakan informasi langsung tentang perubahan yang terjadi pada fungsi sel secara spesifik.

Tidak ada komentar:

Google Ads