Google ads

Sabtu, 26 Desember 2015

PROFIL FARMAKOKINETIK OBAT




Pelaksanaan penuh pharmakokinetik dalam hal penyesuaian dosis individu diperlukan  untuk mendapatkan data konsentrasi obat dalam plasma. Disini ditunjukkan suatu kesimpulan parameter parmakokinetik yang penting dari beberapa obat yang pemberiannya perlu dimonitor secara rutin.  Data menunjukkan, kecuali dinyatakan lain, berupa sediaan oral ( digoxin, phenythoin, dan theophyllin ) atau bentuk sediaan intravena ( gentamicin) untuk dewasa.
Digoxin
Merupakan glikosida jantung yang digunakan untuk mengobati fibrilasi atrium dan gagal jantung kongestif.penyerapannya komlit dan variable ergantung pada pemilihan bentuk formulasi. Secara umum diresepkan dalam bentuk tablet oral dan diberikan sekali sehari.
Beberapa metoda, kebanyakan berdasarkan pada prediksi kreatinin clearance, telah dikembangkan untuk membantu orang clinician dalam memperkirakan jumlah digoxin yang diperlukan untuk masing-masing pasien. Penyesuaian dosis digoxin penting untuk dimonitor karena merupakan obat dengan indeks terapi sempit dan ditandai dinyatakan dengan variable interpatient. Bagaimanapun, faktor terebut bersama dengan data yang berlawanan terhadap efek pada status penyakit yang beragam, menunjukkan kelemaham prediksi dari metode yang ada. Untuk mengevasi penyesuaian dosis maintenance harian  digoxin, konsentrasi plasma harus dinyatakan pada kondisi steady-state. Lebih dari itu, karena digoxin memiliki t ½  yang panjang, sampel tidak akan tergambar paling kurang sampai 6 jam setelah pemberian, pada saat konsentrasi plasma mencerminkan respon cardiac maksimum.
Digoxin tidak akan memberikan sampel obat yang bagus yang sesuai untuk memprediksi model pharmakokinetik. Beberapa studi menunjukkan, bagaimanapun, pertimbangan terhadap monitoring terapi obat bisa secara signifikan menurunkan inseden efek samping obat dan memberikan informasi yang berharga terhadap penilaian klinis dan pengobaytan pada pasien.

Gentamicin 
Gentamicin ( dan aminoglikosida lainnya) merupakan antibiotic yang membunuh bakteri (bakterisida) yang berguna untuk mengobati infeksi bakteri gram negative yang serius dan sering mengancam kehidupan. Sangat sedikit diserap dari saluran pencernaan, karena itu, biasa diberikan secara parenteral dalam bentuk infuse intravena intermitten. Pemilihan dosis dan regimen dosis tergantung pada penyebab infeksi, fungsi ginjal, penyakit lain yang menyertai, dan berat badan pasien.
Oktoksisitas, dan nefrotoksisitas sering dilaporkan pada pasien yang menerima gentamicin. Kemunculan efek samping tersebut berhubungan dengan beberapa faktor seperti, umur, fungsi ginjal, dosis kumulatif, durasi pengobatan, pengendalian peningkatan konsentrasi puncak, dan konsentrasi plasma gentamicin. Gentamicin juga merupakan salah satu obat yang bagus untuk dilakukan therapeutic drug  monitoring.
Konsentrasi puncak dan konsentrasi plasma gentamicin sering digunakan untuk memonitor dan menyesuaikan regiment dosis pasien. Bagaimanapun, perkiraan dosis dapat dipercaya hanya jika sampel plasma menggambarkan kondisi yang terkontrol pada waktu tertentu, jika regiment dosis yang diterima pasien akurat, dan jika fungsi ginjal pasien dan volume distribusi obat tidak berubah selama terapi. Sayangnya, volume distribusi dari gentamicin sering berubah selama terapi sehingga menyulitkan untuk memprediksi secara tepat penyesuaian dosis yang diperlukan.
Kesimpulannya, TDM dari gentamicin dan antibiotic aminoglikosida lainnya membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan perubahan regimen dosis untuk mengoptimalkan efek terapi dan meminimalkan efek samping.

Phenytoin
Phenyton digunakan dalam praktek klinik sebagai anti convulsant. Aktifitas obat meningkat sejalan dengan peningkatan konsentrasi plasma. Ketika konsentrasi plasma phenytoin 15 mg/l frekuensi seizure berkurang 85% pada pasien. Tidak seperti kebanyakan obat lain, penyesuaian dosis phenytoin untuk mencapai konsentrasi steady state plasma tidak bisa dihitung dengan proporsi sederhana. Metabolisme hepatic dari phenytoin mudah jenuh, karena itu sedikit penyesesuaian dosis bisa menghasilkan perubahan besar yang tidak sebanding dengan konsentrasi steady state plasma. Karena itu, phenytoin memperlihatkan pharmakokinetik non linier.
Ketika suatu pengobatan dimulai dengaaan phenytoin, konsentrasi steady state plasma mungkin dicapai pada orang dewasa setelah 10 hari. Bagaimanapun, karena laju metabolisme dan t ½  phenytoin yang berubah-ubah pada konsentrasi plasma yang berbeda, pada beberapa pasien untuk mendapatkannya sampai 4 minggu untuk mencapai tingkat-tingkat steady state yang mengikuti perubahan dosis. Bagaimanapun itu harus jelas, karena itu tidak sesuai dengan t ½  phenytoin. TDM telah ditingkatkan  penggunaannya pada phenitoin untuk pengobatan pasien  epilepsy. Monitoring konsentrasi plasma memungkinkan untuk memperoleh efek klinik yang maksimum, mendorong penggunaan yang rasional obat tunggal pada pengobatan epilepsy, menghindari dosis yang menimbulkan efek samping, dan menilai kepuasan dari pasien yang menerima obat. Kebanyakan metoda pengujian tersedia untuk memonitor konsentrasi total plasma phenytoin. Hal tersebut didukung oleh konsentrasi plasma bebas (8-10 %), ideks sebenarnya dari aktivitas pharmakologi, harus ditentukan secara rutin selama pengukuran konsentrasi plasma total, hanya bisa memberikan perkiraan dari fraksi bebas. Bagaimanapun, tanpa melihat keutuhan yang dimonitor, konsentrasi plasma harus selalu di interpretasikan dalam penjelasan status klinik pasien.

Theophylline
Theophyllin adalah sebuah bronkodilator dan stimulant pernafasan yang digunakan untuk pengobatan asma akut dan kronik. Ini adalah obat yang memiliki indeks terapi yang sempit.
Theophyllin diserap secara kompleks dari mayoritas sediaan yang ada di pasaran. Merupakan obat dengan t ½ yang singkat (8 jam), yang harus dijaga konsentrasi plasmanya pada range terapi yang tergambar dengan baik agar efektif. Fluktuasi konsentrasi plasma antara dosis oral non sustained release mungkin menjadi belebihan pada beberapa pasien. Ketersediaan sediaan oral SR mengurangi fluktasi konsentrasi plasma dan diberikan dalam interval dosis yang lebih panjang.
Theophyllin mengalami metabolisme hepatic yang besar untuk menjadi metabolit inaktif secara relative. Maka kepekaannya terhadap penyakit dan obat  berkurang dengan aktivitas hati. Variable yang potensial pada metabolisme hepatic ada pada pasien yang artinya penggunaan regimen dosis yang ditetapkan bisa menghasilkan bahaya yang potensial atau tidak efektifnya konsentrasi plasma teophylline yang harus diwaspadai. Regiment dosis theophyllin harus diindividualisasi sebagai dasar monitoring konsentrasi plasma.

Tidak ada komentar:

Google Ads