Kosmetik
merupakan kebutuhan pokok bagi wanita, karena semua wanita ingin tampil cantik
dan menarik. Produsen mempromosikan
produk kosmetik dengan cara yang sangat menarik terhadap konsumen, salah
satunya adalah lipstik. Lipstik digunakan oleh para wanita untuk menambah warna
pada bibir sehingga tampak lebih segar, membentuk bibir, serta memberi ilusi
bibir lebih kecil atau besar, tergantung warna yang digunakan.Dari survei awal
kebanyakan wanita memilih atau memakai kosmetik tanpa memperhitungkan sisi
keamanannya. Oleh karena itu, bahan penyusun lipstik harus mengikuti
persyaratan keamanan dan kemanfaatannya harus sesuai peraturan per
undang-undangan kesehatan (Supriyadi, 2008).
Berdasarkan
keputusan Direktur Jendral Pengawasan Obat dan Makanan No. 00386/C/SK/II/90
tentang zat warna tertentu yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya dalam obat, makanan
dan kosmetika terdapat beberapa zat warna yang dilarang penggunaannya, merupakan
pewarna untuk tekstil, dalam sediaan kosmetik karena berpengaruh buruk untuk kesehatan.
Zat warna tersebut salah satunya adalah Merah K10 (Rhodamin B, C.I.Food Red 15,
D&C Red No.19) (Anonim, 1990)
Dalam
rangka melindungi masyarakat dari penggunaan produk kosmetik yang tidak
memenuhi persyaratan karena mengandung bahan berbahaya/ dilarang, Badan POM RI
secara rutin dan berkesinambungan melakukan pengawasan peredaran produk
kosmetik. Dari hasil pengawasan produk kosmetik masih ditemukan produk kosmetik
yang mengandung bahan berbahaya/dilarang, yaitu merkuri, asam ratinoat, bahan
pewarna merah K3 (Cl 15585) dan merah K10 (Rhodamin B), dan dari hasil
pemeriksaan tahun 2011, ditemukan 21 (dua puluh satu) merek kosmetik yang
mengandung merkuri (Hg), 1 (satu) merek kosmetik mengandung asam retinoat, dan
32 (tiga puluh dua) merek kosmetik mengandung zat pewarna berbahaya atau
dilarang digunakan dalam sediaan kosmetik (BPOM RI, 2011).
Untuk
memproduksi kosmetik harus mendapatkan ijin. Kosmetik yang akan diproduksi dan
diedarkan harus memenuhi persyaratan kesehatan, standar mutu atau persyaratan
lain yang ditatapkan oleh Menteri Kesehatan yaitu
mengenai Cara Produksi Kosmetika yang Baik (CPKB) dan hal ini tertuang dalam
Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 965/Menkes/SK/XI/1992 (Anonim, 1992).
Rhodamin
B merupakan salah satu zat warna yang biasa dipergunakan dalam bidang industri
cat, kertas dan tekstil. Efek Rhodamin B pada mulut dapat menimbulkan iritasi
sampai dengan terjadi peradangan. Jika lipstik yang mengandung Rhodamin B
termakan, maka akan menumpuk di lemak sehingga dalam jangka waktu yang lama
jumlahnya terus bertambah di dalam tubuh dan dapat menimbulkan kerusakan pada
organ tubuh sampai mengakibatkan kematian. Selain itu zat warna ini dapat
menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan merupakan zat karsinogenik
(dapat menyebabkan kanker) serta Rhodamin B dalam konsentrasi tinggi dapat
menyebabkan kerusakan pada hati (Anonim, 1990).
Kontrol
kualitas pada lipstik yang beredar di masyarakat sangat penting dilakukan guna
mencegah terjadinya penyakit yang membahayakan kesehatan. Kesehatan masyarakat
adalah tanggungjawab kita bersama. Apabila hal ini dibiarkan terus beredar dan
dipakai oleh masyarakat, maka akan terjadi penurunan derajat kesehatan
masyarakat (Niwayan, 2007).
Pemeriksaan
Rhodamin B dapat dilakukan dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Identifikasi
dengan KLT dapat dilakukan untuk menentukan zat tunggal maupun campuran,
dimanasuatu campuran yang dipisahkan akan terdistribusi sendiri diantara fase-fase
gerak dan tetap dalam perbandingan yang sangat berbeda-beda dari satu senyawa
terhadap senyawa lain. Rhodamin B akan memberikan fluoresensi kuning jika
dilihat dibawah sinar UV 254 nm dan berwarna merah muda jika dilihat secara
visual (Hardjono, 1985).
Kosmetik berasal dari kata “kosmetikos”
(Yunani) yang berartiketrampilanmenghias, mengatur. Definisi kosmetik dalam
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 445/MenKes/Permenkes/1998 adalah sediaan
atau paduanbahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan
(epidermidis,rambut, kuku, bibir, dan organ kelamin bagian luar), gigi, dan
rongga mulutuntuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah
penampakan,melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan
tetapitidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono,
2007).
Dalam
definisi kosmetik tersebut, terdapat kalimat ‘tidak dimaksudkan untukmengobati
atau menyembuhkan suatu penyakit’, pernyataan tersebut mengandungpengertian
bahwa penggunaan kosmetika tidak dimaksudkan untuk mempengaruhistruktur dan
faal kulit. Pada tahun 1955, Lubowe menciptakan istilah Cosmedicssebagaigabungan
dari kosmetik dan obat yang sifatnya dapat mempengaruhi faal kulit
secarapositif tetapi bukan obat, dan menyusul pada tahun 1982,
Faustmengemukakan istilahmedicatedcosmetics, yakni semacam kosmetik yang
juga bermanfaat untukmemperbaiki dan mempertahankan kesehatan kulit, seperti
preparat anti ketombe,deodorant, preparat antipespirant, preparat untuk
mempengaruhi warna kulit, danpreparat anti jerawat. Tujuan utama penggunaan
kosmetik pada masyarakat modern adalah untuk kebersihan pribadi, meningkatkan
daya tarik melalui make-up,meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan
tenang, melindungi kulit dan rambut darikerusakan sinar ultra violet, polusi
dan faktor lingkungan yang lain, mencegah penuaan,dan secara umum membantu
seseorang lebih menikmati dan menghargai hidup (Tranggono, 2007).
Di
pasaran, pada umumnya, banyak sekali beredar sediaan kosmetika jenis pemutih,
pewarna bibir atau perona wajah serta kosmetika yang berperan untuk keindahan
kulit wajah lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya, suatu sediaan kosmetika
akan ditambahkan suatu zat ikutan atau tambahan yang akan menambah nilai
artistik dan daya jual produknya, salah satunya dengan penambahan bahan
pewarna. Akan tetapi pemakaian zat warna diatur sangat ketat berdasarkan atas
aktivitas kimiawi bahan tersebut terhadap kualitas kesehatan kulit yang
terpapar sediaan kosmetika (Anonim, 1990).
Penggolongan Kosmetik
Adapun
penggolongan kosmetik terbagi atas beberapa golongan, diantaranya:
A. Penggolongan kosmetik menurut cara
pembuatan sebagai berikut:
1. Kosmetik
modern, diramu dari bahan kimia dan diolah secara modern
2. Kosmetik
tradisional:
- Betul-betul
tradisional, misalnya mangir, lulur, yang dibuat dari bahan alam dan diolah
menurut resep dan cara yang turun-temurun.
- Semi
tradisional, diolah secara modern dan diberi bahan pengawet agar tahan lama.
- Hanya
namanya yang tradisional, tanpa komponen yang benar-benar tradisional dan
diberi warna yang menyerupai bahan tradisional (Tranggono, 2007).
B. Penggolongan menurut Peraturan
Menteri Kesehatan RI berdasarkan kegunaan dan lokalisasi pemakaian pada tubuh,
kosmetika digolongkan menjadi 13 golongan yaitu:
1.
Preparat untuk bayi; minyak bayi, bedak
bayi, dan lain-lain.
2.
Preparat untuk mandi; minyak mandi,
bathcapsules, dan lain-lain.
3.
Preparat untuk mata; maskara, eyeshadow,
dan lain-lain.
4.
Preparat wangi-wangian; parfum, toilet
water dan lain-lain.
5.
Preparat untuk rambut; cat rambut,
hairspray, pengeriting rambut dan lain-lain.
6.
Preparat pewarna rambut; cat rambut,
hairbleach, dan lain-lain.
7.
Preparat makeup (kecuali mata); lipstik,
rouge, bedak muka dan lain-lain.
8.
Preparat untuk kebersihan mulut; mouthwashes,
pasta gigi, breathfreshener dan lain-lain.
9.
Preparat untuk kebersihan badan;
deodoran, feminismhygienespray dan lain-lain.
10. Preparat
kuku; cat kuku, krem dan lotion kuku, dan lain-lain.
11. Preparat
cukur; sabun cukur, aftershavelotion, dan lain-lain.
12. Preparat
perawatan kulit; pembersih, pelernbab, pelindung dan lain-lain.
13. Preparat
untuk suntan dan sunscreen; suntan gel, sunscreenfoundation dan lain-lain (Wasitaatmadja,
1997).
Kosmetik Rias Bibir
Bagi bibir yang
begitu sempit ternyata tersedia berbagai macam kosmetika
rias. Kosmetika rias
bibir selain untuk merias bibir ternyata disertai juga dengan bahan untuk
meminyaki dan melindungi bibir dari lingkungan yang merusak, misalnya sinar ultraviolet.
Ada beberapa macam kosmetika rias bibir, yaitu:
1.
Lipstik dan lipcrayon.
2.
Krim bibir (lipcream) dan pengkilat
bibir (lipgloss).
3.
Penggaris bibir (lipliner) dan
lipsealers(Tranggono, 2007).
Lipstik
Lipstik adalah pewarna bibir yang
dikemas dalam bentuk batang padat (rollup) yang dibentuk dari minyak, lilin dan
lemak. Bila pengemasan dilakukan dalam bentuk batang lepas disebut lipcrayon
yang memerlukan bantuan pensil warna untuk memperjelas hasil usapan pada bibir.
Sebenarnya lipstik adalah juga lipcrayon yang diberi pengungkit rollup untuk
memudahkan pemakaian dan hanya sedikit lebih lembut dan mudah dipakai.
Lipcrayon biasanya menggunakan lebih banyak lilin dan terasa lebih padat dan
kompak (Wasitaatmadja, 1997).
Lipstik terdiri dari zat warna yang
terdispersi dalam pembawa yang terbuat
dari
campuran lilin dan minyak, dalam komposisi yang sedemikian rupa sehingga
dapat
memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikehendaki. Suhu lebur lipstik
yang
ideal yang sesungguhnya diatur suhunya hingga mendekati suhu bibir, bervariasi antara
36-38ºC. Tetapi karena harus memperhatikan faktor ketahanan terhadap suhu cuaca
disekelilingnya, terutama suhu daerah tropik, maka suhu lebur lipstik dibuat lebih
tinggi yang dianggap lebih sesuai dan diatur pada suhu lebih kurang 62ºC, atau biasanya
berkisar antara 55º-75ºC (Depkes RI, 1985).
Komposisi Lipstik
Adapun bahan-bahan utama pada lipstik
adalah sebagai berikut :
1.
Lilin
Misalnya carnauba wax,
paraffin waxes, ozokerite, beewax, candellilawax,
spermaceti, ceeresine.
Semuanya berperan pada kekerasan lipstik.
2.
Minyak
Fase minyak dalam lipstik dipilih terutama
berdasarkan kemampuannya melarutkan zat-zat eosin. Misalnya minyak castrol, tetrahydrofurfuril alcohol,
fatty acid alkylolamides, dihydricalcohol, beserta monoethers dan monofattyacidesternya,
isopropylmyristate, isopropylpalmitate, butylstearate, paraffinoil.
3.
Lemak
Misalnya, krim kakao, minyak tumbuhan
yang sudah dihidrogenasi (misalnya hydrogenatedcastroloil), cetylalcohol,
oleyilalcohol, lanolin.
4.
Acetoglycerides
Direkomendasikan untuk memperbaiki sifat
thoxotropik batang lipstik meskipun tempertur berfluktuasi, kepadatan lipstik
tetap konstan.
5.
Zat-zat pewarna
Zat pewarna yang dipakai secara universal
didalamlipstick adalah zat warna eosinyang memenuhi dua persyaratan sebagai zat
warna untuk lipstik, yaitu kelekatan pada kulit dan kelarutan dalam minyak.
Pelarut terbaik didalameosin adalah castroloil. Tetapi furfurylalcohol beserta
ester-esternya terutama stearat dan ricinoleat memiliki daya melarutkan eosin
yang lebih besar. Fattyacidalkylolamides jika dipasang sebagai pelarut eosin,
akan memberikan warna yang intensif pada bibir.
6.
Surfaktan
Surfaktan kadang-kadang ditambahkan dalam
pembuatan lipstik untuk memudahkan
pembasahan disperse partikel-partikel pigmen warna yang padat.
7.
Antioksidan
8.
Bahan pengawet
Bahan pengawet (fragrance) atau lebih
tepat bahan pemberi rasa segar (flavoring) harus mampu menutupi rasa bau dan
rasa kurang sedap dari lemak-lemak dalam lipstik dan menggantinya dengan bau
dan rasa yang menyenangkan (Tranggono, 2007).
Persyaratan Lipstik
Persyaratan
untuk lipstik yang diinginkan atau dituntut oleh masyarakat, antara lain :
1.
Melapisi bibir secara mencukupi.
2.
Dapat bertahan di bibir dalam waktu yang
lama.
3.
Cukup melekat pada bibir tetapi tidak
sampai lengket.
4.
Melembabkan bibir dan tidak
mengeringkannya.
5.
Memberikn warna yang merata pada bibir.
6.
Penampilannya harus menarik, baik warna
maupun bentuknya.
7.
Tidak meneteskan minyak, permukaannya
mulus, tidak bopeng atau berbintik-bintik, atau memperlihatkan hal lain yang
tidak menarik (Tranggono, 2007).
Zat Pewarna Kosmetik
Salah satu penentuan mutu suatu bahan
dapat diamati dengan warna. Warna hasil produksi suatu bahan sangat berpengaruh
bagi pemakainya, sebagai contoh, warna suatukosmetika sangat berperan secara
psikologis bagi pemakainya terhadap pembentuk kecantikan. Adapun maksud dan
tujuan pemberian zat warna pada suatu bahan, baik obat, kosmetika dan makanan
sebagai berikut :
1.
Supaya bahan atau hasil produksi itu
menarik bagi pemakainya.
2.
Menghindari adanya pemalsuan terhadap
hasil suatu pabrik.
3.
Menjaga keseragaman hasil suatu pabrik.
Yang lebih penting adalah keamanan
bagi para pemakai zat warna, sebab pemakaian yang keliru dapat menyebabkan
hal-hal yang tidak dikehendaki seperti misalnya memberikan efek karsinogenik,
teratogenik, alergi, dan lain-lain.Pewarna yang digunakan dalam kosmetika
umumnya terdiri atas 2 jenis yaitu:
1.
Pewarna yang dapat larut dalam cairan
(solube), air, alkohol dan minyak. Contoh warna kosmetika ialah pewarna asam
(aciddyes) yang merupakan golongan terbesar pewarna pakaian, makanan dan
kosmetika. Unsur terpenting dari pewarna ialah gugus azo; solventdyes yang larut
dalam air atau alkohol, misal merah DC, merah hijau No.17, violet, kuning,
xanthenesdyes yang dipakai dalam lipstick, misalnya DC orange, merah dan
kuning.
2.
Pewarna yang tidak dapat larut dalam
cairan (insoluble), yang terdiri atas bahan organik dan inorganik, misalnya
lakes, besi oksida.
Tidak semua zat warna dapat digunakan
untuk kosmetika. Zat warna yang sudah
sejak lama dikenal dan digunakan salah satunya adalah daun pandan dan daun suji
untuk warna hijau dan kunyit untuk warna kuning. Kini dengan berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi telah ditemukan zat warna sintetis, karena penggunaannya
lebih praktis dan harganya lebih murah. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan
suatu bahan pewarna, antara lain dengan penambahan zat pewarna. Pewarna
sintetik mempunyai keuntungan yang nyata dibandingkan pewarna alami, yaitu
mempunyai kekuatan mewarnai yang lebih kuat, lebih seragam, lebih stabil,
penggunaanya lebih praktis dan biasanya lebih murah. Namun, disamping
keuntungan itu semua, pewarna sintetik dapat memberikan efek yang kurang baik
pada kesehatan (Tranggono, 2007).
Berdasarkan Keputusan Direktur
Jenderal Pengawasan Obat dan makanan Nomor 00386/C/SK/II/90 bahwa zat warna
tertentu yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya dalam obat, makanan dan
kosmetika adalah sebagai berikut:
Zat warna sebagai bahan berbahaya
dalam obat, makanan dan kosmetika
No
|
Nama
|
Nomor Indeks Warna
|
1
|
Jingga K1 (C.I. Pigmen Orange 5, D&C
Orange No. 17)
|
12075
|
2
|
Merah K3 (C.I. Pigmen Red 53, D&C
Red No 8)
|
15585
|
3
|
Merah K4 (C.I.Pigmen Red 53:1, D&C
Red No 9)
|
15585 : 1
|
4
|
Merah K10 (Rhodamin B, C.I. Food Red 15,
D&C Red No. 19)
|
45170
|
5
|
Merah K11
|
45170 : 1
|
Sumber
: SkepDirJen POM No. 0036/C/SK/II/90
Rhodamin B
Defenisi Rhodamin B
Rhodamin B adalah zat pewarna sintetik
yangumum digunakan sebagai pewarna tekstil. Rhodamin B merupakan pewarna
sintetik berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau atau ungu kemerahan,
tidak berbau dandalam larutan akan berwarna merah
terang berpendar/berfluorosensi.Rumus kimia dari Rhodamin B yaitu C28H31N2O3Cl.
Nama lain dari Rhodamin B itusendiri yang terkenal dipasaran adalahD
and C Red no19, Food Red 15, ADC Rhodamine B,
Aizen Rhodamine, tetra ethyl rhodamin,C.I. No.45179, C.I.
Basic Violet 10, Rheonine B dan Brilliant Pink (Nandar, 2015).
Rhodamine B (C28H31N2O3Cl)
adalah bahan kimia sebagai pewarna dasar untuk berbagai kegunaan, semula zat
ini digunakan untuk kegiatan histologi dan sekarang berkembang untuk berbagai
keperluan yang berhubungan dengan sifatnya yang berfluorensi dalam sinar
matahari (Budavari, 1996).
Struktur Rhodamin B
Nama
Umum : Rumus Bangun Rhodamin B
Nama Kimia : N-[9-(carboxyphenyl)-6-(diethylamino)-3H-xanten-3-ylidene]-N-
ethylethanaminiumchlorida
Nama Lazim : Tetraethylrhodamine;
D&C Red No. 19; Rhodamine B chlorida; C.I. Basic Violet 10; C.I. 45170
Rumus Kimia : C28H31ClN2O3
BM : 479
Kelarutan : Sangat mudah
larut dalam air menghasilkan larutan merah kebiruan dan berfluoresensi kuat
jika diencerkan. Sangat mudah larut dalam alkohol; sukar larut dalam asam encer
dan dalam larutan alkali. Larutan dalam asam kuat membentuk senyawa dengan
kompleks antimon berwarna merah muda yang larut dalam isopropil eter.
Penggunaan : Sebagaipewarnauntuk sutra, katun, wol, nilon, kertas, tinta, sabun, pewarnakayu,
bulu, danpewarnauntukkeramik China. Jug digunakansebagaipewarnaobatdankosmetikdalambentuklarutanobat
yang encer, tablet, kapsul, pasta gigi, sabun, larutanpengeringrambut,
garammandi, lipstik, pemerahpipi (Budavari, 1996).
Penggunaan rhodamin
B pada makanan dan kosmetik dalam waktu lama akan mengakibatkan kanker dan gangguan fungsi hati.Namun demikian,
bila terpapar rhodamin B dalam jumlah besar maka dalam waktu singkat akan terjadi gejala akut keracunan rhodamin
B. (Yulianti, 2007).
Tanda-tandaTerpaparRhodamin B
Tanda-tanda dan gejala Akut bila terpapar Rhodamin
B, adalah sebagai berikut:
1.
Jikatertelan,
dapat menimbul kan iritasi pada saluran pencernaan dan menimbulkan gejala keracunan dan
air seni berwarna merah atau merah muda.
2.
Jika terkena kulit,
dapat menimbulkan iritasi pada kulit.
3.
Jika terkena mata,
dapat menimbulkan iritasi pada mata dan mata kemerahan.
4.
Jika terhirup,
dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan.
5.
Jika tertelan,
dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernakan dan menimbulkan gejala keracunan dan
air seni berwarna atau merahmuda(Yulianti, 2007).
Penentuan
kadar Rhodamin B dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain dengan
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dan SpektrofotometriUV-Vis. Dalam penelitian
ini digunakan spektrofotometriUV-Vis karena metode tersebut sederhana dan juga
memiliki tingkat ketelitian yang baik. (Ditjen POM,2001).
Adapun
bahan yang akan digunakan pada identifikasi Rhodamin B ini adalah Sampel lipstik, Merah K10
BPFI,Air destilasi, Amonia 25 %, Asam asetat glasial, Asam ortofosfat 85%, n-butanol,
Diklorometan, N,N-dimetilformamida (DMF), Etanol 96%, Etil asetat,Metanol, Pelarut
campur: campuran N,N-dimetilformamida - asam ortofosfat (95:5) v/v yang dibuat
baru, Larutan pengembang,Pewarna larut minyak dikembangkan dengan larutan
pengembang Sistem A dan pewarna larut air dengan larutan pengembang lainnya.
Sistem
A : diklorometan
Sistem B :
campuran etil asetat-metanol-[amonia 25% - air (3:7)] (15:3:3) v/v/v yang dibuat
baru.
Sistem
C : campuran etil asetat - n-butanol -
amonia 25 % (20:55:25) v/v/v.
Prosedur Kerja
Penyiapan Larutan Baku
Ditimbang dengan seksama 10 mgMerah
K10 BPFI dan dilarutkan dengan 10 ml metanol atau DMF atau pelarut campur.
Penyiapan Larutan Uji
1.
Ditimbang dengan seksama lebih kurang
0,3 g sampel dan dilarutkan dalam 2 mL pelarut campur.
2.
Jika perlu dipanaskan hingga sampel
larut.
3.
Disaring lapisan pelarut campur melalui penyaring
membran dengan porositas 0,45 µm. Gunakan filtrat sebagai larutan uji.
Prosedur KLT
1.
Bejana KLT dilapisi dengan menggunakan
kertas saring, jenuhkan bejana KLT dengan larutan pengembang yang sesuai.
2.
Lempeng KLT disiapkan dengan membuat batas
penotolan dan batas elusi lebih kurang 15 cm, kecuali untuk larutan pengembang
sistem A, lebih kurang 11 cm.
3.
Ditotolkan secara terpisah,
masing-masing 3 µL larutan baku dan sejumlah volume sama larutan uji
(tergantung kepekatan warna) pada batas penotolan.
4.
Dikembangkan lempeng dalam masing-masing
bejana kromatografi yang berisi larutan pengembang sampai batas elusi pada suhu
ruang.
5.
Diangkat lempeng dan dikeringkan pada
suhu ruang.
Identifikasi
1.
Dihitung nilai Rf untuk masing-masing
bercak.
2.
Dibandingkan nilai Rf dan warna bercak
pada pengamatan secara visual yang diperoleh dari larutan uji dan larutan baku.
3.
Diamati bercak Merah K10(Rhodamine B) di bawah penyinaran lampu
UV, bercak berwarna terang yang menunjukkan adanya pewarna Rhodamin B.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar