Google ads

Minggu, 15 Maret 2015

Manufacturing Process Development (MPD) pada industri farmasi



Manufacturing Process Development (MPD)



Manufacturing Process Development (MPD) merupakan departemen yang bertugas untuk melakukan pengembangan yang ditujukan untuk pengembangan produk, pengembangan proses dan pengembangan bahan baku. Departemen ini tidak melakukan penelitian produk dari awal seperti layaknya departemen Research and Development (R&D). Penelitian awal dilakukan di Jepang. Departemen MPD memiliki dua subdivisi yaitu process and product development dan material and packaging development.
A. Process and Product Development
Process and Product Development merupakan sub departemen dari MPD yang bertugas untuk mengembangkan produk baru. Proses pengembangan produk tersebut meliputi:
Ø  Pengembangan produk baru (New Product Development)
Penjelasan:
Produk baru digolongkan menjadi dua macam yaitu produk transfer dan produk asli (original product). Produk transfer merupakan istilah untuk produk baru yang berasal dari perusahaan induk kemudian diijinkan untuk diproduksi pada anak perusahaan di negara lain. Produk asli (original product) merupakan produk baru yang dibuat langsung di masing-masing anak perusahaan.  Proses pengembangan produk transfer dimulai dari :
1)        Persetujuan  lisensi dari perusahaan Induk
Persetujuan lisensi menandakan bahwa anak perusahaan diijinkan untuk melakukan produksi.
2)        Technical transfer
Tahapan ini merupakan proses transfer teknologi manufaktur dari jepang ke anak perusahaan berupa informasi teknis proses produksi. Selain itu juga terdapat Analytical Method Transfer.
3)        Metode analisa:
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam metode analisa
-        Analytical methods transfer :
Merupakan metode analisa terbanding antara metode analisa anak perusahaan dengan perusahaan induk.
-        Analytical method validation/ validasi metode analisa
Validasi bertujuan untuk menunjukkan bahwa metode analisis sesuai dengan tujuan penggunaanya. Karakteristik validasi yang umumnya perlu diperhatikan antara lain akurasi, presisi, ripitabilitas, intermediate precission, spesivitas, batas deteksi, batas kuantitasi, linearitas, dan rentang untuk tiap metode analisa
4)        Procurement/ pengadaan :
       Pengadaan meliputi mesin dan bahan baku yang diperlukan untuk produksi produk baru
5)        Validasi metode analisa
6)        Validasi pembersihan (Cleaning validation)
Beberapa item yang dipastikan pada saat validasi pembersihan antara lain residu, cleaning agent, microbial, TOC. Metode yang digunakan dalam validasi pembersihan ada 2 yaitu metode swab dan metode rinsing. Metode swab dilakukan pada titik yang tidak dapat dideteksi oleh metode rinsing.
7)        Optimasi / Optimization
       Optimasi merupakan percobaan proses produksi dengan parameter yang bervariasi untuk mendapatkan metode produksi yang tepat.
8)        Validasi proses
Validasi proses dilakukan pada tiga bets secara  berturut-turut, dengan memperhatikan parameter kritis dan acceptance criteria.
9)    Stability study
Penelitian stabilitas dilakukan pada tiga  bets secara  berturut-turut setelah validasi proses selesai. Penelitian stabilitas yang dilakukan dua macam yaitu  realtime dan accelerated. Stability Study dilakukan selama masa kadaluarsa untuk mengetahui kadar kestabilan komposisi bahan aktif, pH, identifikasi particulate contamination, sterilitas, bacterial endotoxin, produk degradasi, water content, disolusi, dan lain-lain.
10) Pengajuan ke BPOM
       Proses pengajuan ke BPOM memberikan dokumen lengkap sesuai dengan pendaftaran obat baru.
11)  Persetujuan registrasi
       Bertujuan untuk memperoleh nomor ijin edar
12)  Pelatihan operator
       Pelatihan operator untuk membuat produk baru meliputi pengoperasian mesin, cara penimbangan, tekanan ruangan, jenis pakaian yang digunakan.
13)  Produksi komersial
       Produksi komersial bisa dilakukan setelah mendapat sertifikat CPOB dan juga diperlukan komunikasi dengan pihak marketing untuk dijual ke distributor.       

B.        Material and Packaging Development
Material and Packaging Development merupakan subdivisi MPD yang bertugas untuk mengurus kemasan produk. Subdivisi ini memiliki dua macam kegiatan yaitu pembaharuan kemasan dan peninjauan untuk pembaharuan proses pembuatan kemasan.
1)        New Development
Pembaharuan kemasan pada umumnya dilakukan bila ada :
ü  Material baru kemasan untuk produk baru atau innovator (New material of packaging for new (inovator) product)
Bahan baku yang digunakan untuk produk baru, misalnya new film bag og Bifluid di cek dengan menggunakan uji fisik, bursting test, uji stabilitas larutan terhadap new film bag, uji pH dan lain-lain.
ü  Vendor baru suatu material kemas (New vendor of material)
Dilakukan jika refference vendor tidak dapat memproduksi material dan beralih ke vendor lain dan jika dalam 1 refference beralih plant yang baru untuk dapat memproduksi material packaging. Sebagai contoh perubahan material plabottle LDPE jenis A ke LDPE jenis B dalam 1 vendor.
Pengujian yang dilakukan meliputi:
1. Uji material resin LDPE : appearance, fisikokimia, biologi.
2. Uji plabottle dengan new material resin : appearance botol, uji fisik (berat botol, dimensi, hanger drop, dan lain-lain), uji stabilitas produk ajdi terhadap bahan kemas (uji fisikokimia, uji mikrobiologi, uji sterilitas).
ü  Material pengganti kemasan (Alternative material of packaging)
Dilakukan jika existing material sudah tidak compatible baik di proses maupun yang mempengaruhi produk jadi, optimasi harga material packaging, optimasi material packaging terhadap proses.

2)    Review for improvement process
    Dilakukan untuk meninjau ulang kemasan yang bertujuan meningkatkan proses, produktivitas dan lain-lain, sebagai contoh yaitu pembuatan mould plabottle yang baru untuk meningkatkan produktivitas, pembuatan outer cap baru, pembuatan inner cap baru.
Contoh dari proses ini adalah perubahan kualitas dari PET 12/Al 12/PE 40 menjadi PET 12/PE 15/Al 12/LLDPE 40 harus dilakukan acceptance test dengan beberapa pengujian antara lain appearance (seal condition), thickness, seal strength, humidity, permeability test dan block spot test.
  Pengujian yang dilakukan pada kemasan meliputi 2 jenis yaitu pengujian pada kemasan dan pengujian pada label. Pengujian yang pada umumnya dilakukan pada kemasan produk parenteral antara lain :
1)        Uji kebocoran kemasan dengan pewarna
Uji kebocoran kemasan dilakukan dengan menggunakan pewarna berwarna merah. Produk dicelupkan ke dalam pewarna, kebocoran teridentifikasi bila terdapat noda merah terserap pada bagian  plastik kemasan. Pada umumnya produk yang diuji adalah produk LVP dan SVP.
2)        Uji kebocoran kemasan dengan mesin Auto Leakage Tester (ALT)
Uji kebocoran kemasan ini menggunakan listrik bertegangan tinggi yang disesuaikan dengan jenis produk (elektrolit dan non elektrolit) dan variasi volume produk, sebagai contoh untuk produk plabottle dengan larutan elektrolit dan volume 500 ml tegangan yang digunakan adalah 30 kv untuk channel 1,2,3 dan 28 kv untuk channel 4 dan 5. Setiap kebocoran diidentifikasi dengan adanya listrik yang mengalir ke dalam botol plastik melalui cairan isi  yang keluar dari celah kemasan yang bocor. Produk yang diuji kemasannya menggunakan metode ini pada umumnya produk LVP plabottle.
3)        Dropping Test
       Dropping test merupakan uji ketahanan kemasan produk. Pengujian ini dilakukan dengan cara yang bervariasi pada tiap produk yang berbeda. Pada produk LVP, dropping test dilakukan dengan cara produk LVP plabottle dijatuhkan dari ketinggian 170 cm dari 6 sisi yang berbeda dengan pengulangan sebanyak 20x. Setelah dijatuhkan sebanyak 20x dilakukan uji kebocoran pada produk. Sedangkan pada produk LVP softbag, dilakukan dengan cara menjatuhkan beban seberat 6 kg 4 ons di atas produk softbag.
4)        Uji transparansi kemasan
     Uji transparansi kemasan dilakukan untuk mengetahui transparansi lapisan plastik botol. Nilai transparansi dipersyaratkan >55% sesuai Dengan yang ditetapkan di Farmakope Indonesia yang kemudian dituangkan dalam SOP. Nilai transparansi harus >55% agar partikel dalam kemasan dapat diinspeksi dengan mudah. Pengujian ini dilakukan pada produk LVP dan SVP
5)    Uji twist-off
       Uji twist dilakukan pada produk ampul New SVP dengan memutar tutup ampul menggunakan alat IMADA Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah tutup botol mudah dibuka atau tidak dengan cara diputar
 6)   Uji Segregasi
       Uji ini dilakukan pada produk ampul New SVP untuk mengetahui antar ampul SVP mudah dipisahkan atau tidak dari ampul lainnya dalam satu strip.
     7)    Stability Test
Uji kestabilan kemasan dilakukan selama 3 bulan. Interval pengambilan  sampel pada bulan ke-1, 2 dan 3 pada suhu 30°C, 40°C dan 50°C.
Sedangkan macam pengujian yang pada umumnya dilakukan pada label produk parenteral antara lain :
1)    Uji kontras Ribbon
  Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kontras tulisan dari tinta ribbon  yang tercetak pada label produk SVP. Nilai kontras tulisan yang terbaca pada label New SVP disyaratkan 80-100%.  Bila nilai kontras cetakan tulisan ribbon tidak masuk rentang nilai kontras maka tidak terbaca oleh kamera. Pengujian pada hanya dilakukan khusus pada produk New Small Volume Parenteral yang proses produksinya berjalan secara otomatis secara aseptis, dikarenakan proses filling dan sealing dilakukan bersamaan.
2)    Biological Test
       Biological test dilakukan dengan menguji pertumbuhan jamur, bakteri yeast,mold pada tinta ribbon label yang terdapat pada botol.
3)    Hot Water Resistance Test
Uji ini dilakukan terhadap label kemasan. Salah satu bentuk stability test adalah hot water resistance test, pengujian ini bertujuan untuk mengetahuilabel terlepas atau tidak serta untuk mengetahui label pada kemasan mudah luntur atau tidak. Pengujian ini dilakukan dengan cara merendam produk di dalam air panas bersuhu 40°C selama 40 menit dan 300 menit. Pada pengujian lain yang serupa juga digunakan media etanol 80% selama 30 menit dan 60 menit.
4)    Drying test
Uji ini dilakukan pada label ribbon. Pada pengujian ini produk disimpan dalam oven bersuhu konstan 50oC selama 7 menit.
5)    Transportation Test
Pengujian untuk mengetahui apakah tulisan yang tercetak pada label dapat hilang apabila bergesekan antara botol yang satu dengan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Google Ads