Google ads

Kamis, 22 Oktober 2015

Hubungan Kelarutan Dengan Aktivitas Biologis Obat



Sifat kelarutan pada umumnya berhubungan dengan kelarutan senyawa dalam media yang berbeda dan bervariasi diantara dua hal yang ekstrem, yaitu polar, seperti air dan pelarut non polar seperti lemak.
Sifat hidrofilik atau lipofobik berhubungan dengan kelarutan dalam air, sedangkan sifat lipofilik atau hidrofobik berhubungan dengan kelarutan dalam lemak. Gugus yang dapat meningkatkan kelarutan molekul dalam air disebut gugus hidrofilik (lipofobik atau polar) sedangkan gugus yang dapat meningkatkan kelarutan molekul dalam lemak disebut  gugus lipofilik (hidrifobik atau nonpolar).

Tabel.1 Contoh Gugus hidrofilik dan lipofilik
Sifat
Gugus
Hidrofilik

(makin ke kanan makin menurun)
Kuat
-OSO2ONa, -COONa, -SO2Na, -OSO2H
Sedang
-OH, -SH, -O, =C=O, -CHO, -NO2, -NH2, -NHR, -NR2, -CN,
 -CNS, -COOH, -COOR, -OPO3H2, -OS2O2H
Ikatan tak jenuh
-C=CH, -CH=CH2
Lipofilik
Rantai hidrokarbon alifatik,alkil,aril,hidrokarbon,polisiklik

Gugus halogen mempunyai sifat yang khas, walaupun mempunyai efek elektronegatif relatif kuat tetapi bila disubtitusikan pada cincin aromatik akan bersifat lipofilik. Subtitusi pada rantai alifatik gugus –I, -Br, -CL  akan besifat lipofilik, sedangkan gugus F bersifat hidrofilik. Hubungan sifat hidrofilik dan lipofilik dari senyawa dapat dilihat pada Gambar dibawah ini.

Sifat kelarutan pada umumnya berhubungan dengan aktivitas biologis dari senyawa seri homolog. Sifat keturunan juga berhubungan erat dengan proses absorpsi obat. Hal ini penting karena intensitas aktivitas biologis obat tergantung pada derajat absorpsinya. Overton (1901) mengemukakan konsep bahwa kelarutan senyawa organik dalam lemak berhubungan dengan mudah atau tidaknya penembusan membran sel. Senyawa non polar bersifat mudah larut dalam lemak, mempunyai nilai koefisien partisi lemak/air besar sehingga mudah menembus membran sel secara difusi pasif. makin besar nilai koefisin partisi (P) kloroform/air dari bentuk tak terionisasi turunan barbiturat, makin besar presentasi obat yang diabsorpsi. Terlihat bahwa makin besar nilai koefisien partisi (P) kloroform/air dari bentuk tak terionisasi turunan barbiturat, makin besar besar presentasi obat yang diabsorpsi. 
 ASPEK FARMAKOKINETIKA
Farmakokinetika dapat didefinisikan sebagai setiap proses yang dilakukan tubuh terhadap obat, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Dala arti sempit farmakokinetika khususnya mempelajari perubahan-perubahan konsentrasi dari obat dan metabolitnya didalam darah dan jaringan sebagai fungsi dari waktu (Tjay dan Rahardja, 2002).


2.1.1        Absorpsi
Yang dimaksud dengan absorpsi suatu obat ialah pengambilan obat dari permukaan tubuh ke dalam aliran darah atau ke dalam sistem pembuluh limfe. Dari aliran darah atau sistem pembuluh limfe terjadi distribusi obat ke dalam organisme keseluruhan. Absorpsi, distribusi dan ekstraksi tidak mungkin melalui membran dapat terjadi sebagai difusi, difusi terfasilitasi, transport aktif,  pinositosis atau fagositosis. Absorpsi kebanyakan obat terjadi secara pasif melalui difusi.

Ø  Transport pasif
Transport pasif tidak memerlukan energi, sebab hanya dengan proses difusi obat dapat berpindah dari daerah dengan kadar konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang rendah. Terjadi selama molekul-molekul kecil dapat berdifusi sepanjang membran dan berhenti bila konsentrasi pada kedua sisi membran seimbang.
Ø  Transport aktif
Transport aktif membutuhkan energi untuk menggerakkan obat dari daerah dengan konsentrasi obat rendah ke daerah dengan konsentrasi obat tinggi.
Ø  Pinositosis
Pinositosis adalah bentuk tranfer aktif yang unik dimana sel ‘menelan’ partikel obat. Biasanya terjadi pada obat-obat larut lemak (vit A, D, E, K).


Ø  Faktor yang mempengaruhi penyerapan
ü Aliran darah ke tempat absorpsi
ü Total luas permukaan yang tersedia sebagai tempat absorpsi
ü Waktu kontak permukaan absorpsi

2.1.2        Distribusi
Apabila obat mencapai pembuluh darah, obat akan ditransfer lebih lanjut bersama aliran darah dalam sistem sirkulasi. Akibat perubahan konsentrasi darah terhadap jaringan, bahan obat meninggalkan pembuluh darah dan terdistribusi ke dalam jaringan (Mutscler, 1985).
Pada tahap distribusi ini penyebarannya sangat peka terhadap berbagai pengaruh yang terkait dengan tahap penyerapan dan tahap yang terjadi sesudahnya yaitu peniadaan, serta terkait pula dengan komposisi biokimia serta keadaan fisiopatologi subyeknya, disamping itu perlu diingat kemungkinan adanya interaksi dengan molekul lainnya. Pada tahap ini merupakan fenomena dinamik, yang selalu terdiri dari fase peningkatan dan penurunan kadar zat aktif. Pengertian akumulasi dan penimbunan terutama penimbunan bahan toksik, harus dijajaki dari sudut pandang dinamik, maksudnya melihat perbedaan antara kecepatan masuk dan kecepatan keluar. Sebenarnya penimbunan bahan toksik merupakan efek racun dan hasil fatal sebagai akibat lambat atau sangat lambatnya laju pengeluaran dibandingkan laju penyerapan (Aiache,1993).

2.1.3        Metabolisme
Obat yang telah diserap usus ke dalam sirkulasi lalu diangkut melalui sistem pembuluh porta (vena portae), yang merupakan suplai darah utama dari daerah lambung usus ke hati. Dalam hati, seluruh atau sebagian obat mengalami perubahan kimiawi secara enzimatis dan hasil perubahannya (metabolit) menjadi tidak atau kurang aktif, dimana proses ini disebut proses diaktivasi atau bioinaktivasi (pada obat dinamakan first pass effect). Tapi adapula obat yang khasiat farmakologinya justru diperkuat (bioaktivasi), oleh karenanya reaksi-reaksi metabolisme dalam hati dan beberapa organ lain lebih tepat disebut biotransformasi (Tjay dan Rahardja, 2002).
Faktor yang mempengaruhi metabolisme obat yaitu induksi enzim yang dapat meningkatkan kecepatan biotransformasi. Selain itu inhibisi enzim yang merupakan kebalikan dari induksi enzim, biotranformasi obat diperlambat, menyebabkan bioavailabilitasnya meningkat, menimbulkan efek menjadi lebih besar dan lebih lama. Kompetisi (interaksi obat) juga berpengaruh terhadap metabolisme dimana terjadi oleh obat yang dimetabolisir oleh sistem enzim yang sama (contoh alkohol dan barbiturat). Perbedaan individu juga berpengaruh terhadap metabolisme karena adanya genetic polymorphism, dimana seseorang mungkin memiliki kecepatan metabolisme berbeda untuk obat yang sama (Hinz, 2005).
Bila obat diberikan per oral, maka availabilitas sistemiknya kurang dari 1 dan besarnya bergantung pada jumlah obat yang dapat menembus dinding saluran cerna (jumlah obat yang diabsorpsi) dan jumlah obat yang mengalami eliminasi presistemik (metabolisme lintas pertama) di mukosa usus dan dalam hepar (Setiawati,2005).
Obat yang digunakan secara oral akan melalui lever (hepar) sebelum masuk ke dalam darah menuju ke daerah lain dari tubuh (misalnya otak, jantung, paru-paru dan jaringan lainnya). Di dalam lever terdapat enzim khusus yaitu sitokrom P-450 yang akan mengubah obat menjadi bentuk metabolitnya. Metabolit umumnya menjadi lebih larut dalam air (polar) dan akan dengan cepat diekskresi ke luar tubuh melalui urin, feses, keringat dan lain-lain. Hal ini akan secara dramatik mempengaruhi kadar obat dalam plasma dimana obat yang mengalami first pass metabolism akan kurang bioavailabilitasnya sehingga efek yang di hasilkan juga berkurang (Hinz, 2005).
Tipe metabolisme dibedakan menjadi dua bagian yaitu Nonsynthetic Reactions (Reaksi Fase I) dan Synthetic Reaction (Reaksi Fase II). Reaksi fase I terdiri dari oksidasi, reduksi, hidrolisa, alkali, dan dealkilasi. Metabolitnya bisa lebih aktif dari senyawa asalnya. Umumnya tidak dieliminasi dari tubuh kecuali dengan adanya metabolisme lebih lanjut. Reaksi fase II berupa konjugasi yaitu penggabungan suatu obat dengan suatu molekul lain. Metabolitnya umumnya  lebih larut dalam air dan mudah diekskresikan (Hinz, 2005).  Metabolit umumnya merupakan suatu bentuk yang lebih larut dalam air dibandingkan molekul awal. Perubahan sifat fisiko kimia ini paling sering dikaitkan dengan penyebaran kuantitatif metabolit yang dapat sangat berbeda dari zat aktifnya dengan segala akibatnya. Jika metabolit ini merupakan mediator farmakologik, maka akan terjadi perubahan, baik berupa peningkatan maupun penurunan efeknya (Aiache, 1993).
2.1.4        Eksresi
Pengeluaran obat atau metabolitnya dari tubuh terutama dilakukan oleh ginjal melalui air seni disebut ekskresi. Lazimnya tiap obat diekskresi berupa metabolitnya dan hanya sebagian kecil dalam keadaan asli yang utuh. Tapi adapula beberapa cara lain yaitu melalui kulit bersama keringat, paru-paru melalui pernafasan dan melalui hati dengan empedu (Tjay dan Rahardja, 2002). Turunnya kadar plasma obat dan lama efeknya tergantung pada kecepatan metabolisme dan ekskresi. Kedua faktor ini menentukan kecepatan eliminasi obat yang dinyatakan dengan pengertian plasma half-life eliminasi (waktu paruh) yaitu rentang waktu dimana kadar obat dalam plasma pada fase eliminasi menurun sampai separuhnya. Kecepatan eliminasi obat dan plasma t1/2-nya tergantung dari kecepatan biotransformasi dan ekskresi. Obat dengan metabolisme cepat half lifenya juga pendek. Sebaliknya zat yang tidak mengalami biotransformasi atau yang resorpsi kembali oleh tubuli ginjal, dengan sendirinya t1/2- nya panjang (Waldon, 2008).

AKTIVITAS BIOLOGIS SENYAWA SERI HOMOLOG
Pada beberapa seri homolog senyawa sukar terdisosiasi, yang perbedaan struktur hanya menyangkut perbedaaan jumlah dan panjang rantai atom C, intensitas aktivitas biologisnya tergantung pada jumlah atom C.
Contoh senyawa seri homolog:
1.      n-Alkohol, alkilresorsinol, alkilfenol, dan alkilkresol (antibakteri)
2.      Ester asam para-amonibenzoat (anestesi setempat)
3.      Alkil 4,4-stilbenediol (hormon estrogen)
Makin panjang rantai samping atom C, makin bertambah bagian molekul yang bersifat non polar dan terjadi perubahan sifat fisik, seperti kenaikan titik didih, berkurangnya kelarutan dalam air, meningkatnya koefisien partisi lemak/air, tegangan permukaan dan kekentalan. Perubahan sifat fisik ini diikuti dengan peningkatan aktivitas biologis sampai tercapainya aktivitas maksimum. Bila panjang rantai atom C terus ditingkatkan akan terjadi penurunan aktivitas secara drastis. Hal ini disebabkan dengan makin bertambahnya jumlah atom C, makin berkurang kelarutan senyawa dalam air, yang berarti kelarutan dalam cairan luar sel juga berkurang, sedang kelarutan senyawa dalam cairan luar sel berhubungan dengan proses transpor obat ke tempat aksi atau reseptor. Oleh karena itu kelarutan dan koefisien partisi lemak/air merupakan sifat fisik penting senyawa seri homolog untuk menghasilkan aktivitas biologis. Hal diatas digambarkan dalam bentuk grafik oleh Ferguson, dengan memplot log kadar toksi terhadap dua mikroorganisme dan log kelarutan dari n-alkohol, 

Contoh seri homolog:

 Seri homolog n-alkohol
Seri homolog n-alifatik primer, pada jumlah atom C1-C7 menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Bacillus typhosusyang semakin meningkat dan mencapai maksimum pada jumlah atom C=8 (oktanol). Hal ini disebabkan makin panjang rantai ataom C, makin bertambah bagian molekul yang bersifat non polar, koefisien partisi lemak/air meningkat, penembusan senyawa membran bakteri meningkat, sehingga aktivitas antibakterijuga meningkat, sampai tercapai aktivitas maksimum. Pada jumlah atom C lebih besar 8, aktivitas menurun secara drastis. Hal ini disebabkan senyawa mempunyai kelarutan dalam air sangat kecil, yang berarti senyawa praktis tidak larut dalam cairan luar sel, sedang kelarutan senyawa dalam cairan luar sel berhubungan dengan proses transpor obat ke tempat aksi atau reseptor. Terhadap Staphylococcus aureus aktivitas mencapai maksimum pada jumlah atom C=5 (amilalkohol). Rantai alkohol yang bercabang, seperti alkohol sekunder dan tersier, mempunyai kelarutan dalam air lebih besar, nilai koefisien partisi lemak/air lebih rendah dibandingkan alkohol primer sehingga aktivitas antibakterinya lebih kecil.


 Seri homolog 4-n-alkilresorsinol
Aktivitas antibakteri seri homolog 4-n-alkilresorsino  terhadap Bacillus typhosus mencapai maksimum pada jumlah atom C=6, yaitu 4-n-heksilresorsinol (pada Gambar), sedang terhadap Staphylococcus aureus aktivitas mencapai maksimum jumlah atom C=9,(4-n-nonil-resorsinol). Hal tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan sensitivitas dari senyawa seri homolog terhadap kuman yang berbeda.
Seri homolog ester asam para-hidroksibenzoat
Hubungan perubahan struktur seri homolog ester asam para-hidroksibenzoat (PHB),dengan nilai  koefisein partisi lamak/air dan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dapat dilihat pada tabel.

Ester PBH
Koefisien Partisi
Koefisien Fenol terhadap Staphylococcus aureus
Metil
Etil
n-Propil
Isopropil
Alil
n-Butil
Benzil
1,2
3,4
13
7,3
7,6
17
119
2,6
7,1
15
13
12
37
83

Dari tabel terlihat bahwa turunan Isopropil dan alil mempunyai koefisein fenol yang lebih rendah dibandingkan turunan n-propil, karena adanya percabangan dan ikatan rangkap akan menurunkan nilai koefisien partisi lemak/air, penembusan membran bakteri menjadi menurun, sehingga aktivitas antibakterinya juga menurun. Juga terlihat bahwa makin besar nilai koefisien partisi lemak/air, makin meningkat aktivitas antibakteri senyawa, dan belum mencapai keadaan optimum.

 HUBUNGAN KOEFISIEN PARTISI DENGAN EFEK ANESTESI SISTEMIK
Koefisien partisi pertama kali dihubungkan dengan aktivitas biologis, yaitu efek hipnotik dan anestesi, obat-obat penekan sistem saraf pusatoleh Overton dan Mayer (1899).  Mereka memberikan tiga postulat yang berhubungan dengan efek anestesi suatu senyawa, yang dikenal dengan teori lemak, sebaga berikut:
a.    Senyawa kimia yang tidak reaktif dan mudah larut dalam lemak, seperti eter,hidrokarbon dan hidrokarbon terhalogenasi, dapat memberikan efek narkosis pada jaringan hidup sesuai dengan kemampuannya untuk terdistribusi ke dalam jaringan sel.
b.    Efek terlihat jelas terutama pada sel-sel yang banyak mengandung lemak, seperti saraf pusat.
c.    Efisiensi anestesi atau hipnotik tergantung pada koefisien partisi lemak/air atau distribusi senyawa dalam fasa lemak dan fasa air jaringan.
Dari postulat di atas disimpulkan bahwa ada hubungan antara aktivitas anestesi dengan koefisien partisi lemak/air. Teori lama hanya mengemukakan afinitas suatu senyawa terhadap tempat aksi untuk reseptor saja, dan tidak menunjukkan bagaimana mekanisme kerja biologisnya dan juga tidak dapat menjelaskan mengapa suatu senyawa yang mempunyai koefisien partisi lemak/air tinggi tidak selalu dapat menimbulkan efek anestesi. Teori anestesi diatas kemungkinan dilengkapi dengan teori-teori anestesi sistemik lain, yang berdasarkan sifat fisik yang lain yaitu ukuran molekul (teori Wulf-Featherstone)  dan pembentukan mikrokristal hidrat (teori Pauling).


2.4         PRINSIP FERGUSON
Banyak senyawa kimia dengan struktur berbeda tetapi mempunyai sifat fisik yang sama, sepert eter,kloroform dan nitrogen oksida, dapat menimbulkan efek narkosis atau anestesi sistemik. Hal ini menunjukkan bahwa sifat fisik lebih berperan dibandingkan sifat kimia. Dari percobaan diketahui bahwa efek anestesi cepat terjadi dan dipertahankan pada tingkat yang sama asalkan ada cadangan obat dalam cairan tubuh. Bila cadangan itu habis maka efek anestesi segara berakhir. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada keseimbangan kadar obat pada fasa eksternal atau cairan luar sel dan biofasa, yaitu fasa pada tempat aksi obat dalam organisme. Pada banyak senyawa seri homolog aktivitas akan meningkat sesuai dengan kenaikan jumlah atom C.
Fuhner (1904), mendapatkan bahwa untuk mencapai aktivitas sama, anggota seri homolog yang lebh tinggi memerlukan kadar lebih rendah, sesuai parsamaan deret ukur sebagai berikut:

1/31,1/32,1/33,1/34,......1/3n

Hal tersebut terjadi pada seri homolog obatpenekan sistem saraf pusat, seperti turunan alkohol,keton, amin, ester, uretan dan hidrokarbon. Perubahan sifat fisik tertentu dari suatu seri homolog , seperti tekanan uap, kelarutan dalam air, tegangan permukaan dan distribusi dalam pelarut yang saling tidak campur, kadang-kadang juga sesuai dengan deret ukur. Nilai logaritma sifat-sifat fisik non-alkohol primer bila dihubungkan dengan jumlah atom C ternyata memberikan hubungan yang linier
Menurut Ferguson, kadar molar toksik sangat ditentukan oleh keseimbangn distribusi pada fasa-fasa yang heterogen, yaitu fasa eksternal, yang kadar senyawanya dapat diukur dan biofasa. Farguson menyatakan bahwa sebenarnya tidak perlu menentukan kadar obat biofasa atau reseptor karena pada keseimbangan kecenderungan obat untuk meninggalkan biofasa dan fasa eksternal adalah sama, walaupun kadar obat dalam masing-masing fasa mungkin berbeda. Kecenderungan obat untuk meninggalkan fasa disebut aktivitas termodinamik.


 Untuk menjelaskan kecenderungan obat dalam meninggalkan biofasa dan fasa eksternal, derajat kejenuhan masing-masing fasa merupakan pendekatan yang cukup beralasan. Aktivitas termodinamik (a) dari obat yang berupa gas atau uap dapat dihitung melalui persamaan sebagai berikut:

a=Pt/Ps

Ket :
Pt : tekanan persial senyawa dalam larutan, yang diperlukan untuk menimbulkan efek biologis
Ps : tekanan uap jenuh senyawa
Aktivitas termodinamik (a) dari obat yang berupa larutan dapat dihitung melalui persamaan sebagai berikut:

a= St/S0

Ket :
St : kadar molar senyawa yang diperlukan untuk menimbulkan efek biologis 
S0 : kelarutan senyawa
Karena harga Ps dan So tetap maka dimungkinkan untuk menentukan dan mengamati perubahan Pt dan St. Bila senyawa mempunyai tekanan parsial tinggi atau kadar dalam fasa eksternal tinggi maka perbandingan Pt/Ps dan St/S0 besar, biasanya berkisar antara 1-0,01, hal ini berarti senyawa didistribusikan ke seluruh organisme tanpa diikat secara tetap dalam sel dan keseimbangan terjadi pada fasa eksternal dan biofasa. Demikian pula sebaliknya nila perbandingan Pt/Ps atau St/S0 rendah, biasanya kurang dari 0,01, senyawa akan terikat pada reseptor tertentu dalam sel organisme dan keseimbangan anatara obat dan reseptor terjadi pada sel atau di dalamnya. Contoh hubungan penghambat enzim suksinat dehidrogenase oleh beberapa senyawa dengan aktivitas termodinamik dapat dilihat pada tabel ini.

Tabel : Penghambat enzim suksinat dehidrogenase dan aktivitas termodinamik
Senyawa
Kadar molar yang menyebabkan penghambat 50% masukan oksigen
Aktivitas termodinamik
1.      Etiluretan
2.      Feniluretan
3.      Propionitril
4.      Valeronitril
5.      vanilin
0,65
0,003
0,48
0,08
0,011
0,117
0,20
0,24
0,36
0,0002

Pada tabel terlihat hubungan bahwa senyawa 1 sampai 4, menunjukkan aktivitas termodinamik yang lebih besar dari 0,01 dan aktivitas biologis dihasilkan oleh sifat kimia fisika dari senyawa dan struktur senyawa bersifat tidak spesifik. Vanilin mempunyai nilai aktivitas termodinamik sangat rendah, lebih kecil dari 0,01 dan diduga aktivitas biologisnya dihasilkan oleh struktur kimia obat yang spesifik. Berdasarkan model kerja farmakologisnya, secara umum obat dibagi menjadi dua golongan yaitu senyawa berstruktur tidak spesifik dan senyawa berstruktur spesifik.

 Senyawa Berstruktur Tidak Spesifik
Senyawa berstruktur tidak spesifik adalah senyawa dengan truktur kimia bervariasi, tidak berinteraksi dengan reseptor spesifik, dan aktivitas biologisnya tidak secara langsung dipengaruhi oleh struktur kimia tetapi lebih dipengaruhi oleh sifat-sifat kimia fisika, seperti derajat ionisasi, kelarutan, aktivitas termodinamik, tegangan permukaan dan redoks potensial. Terlihat bahwa efek biologis karena akumulasi obat pada daerah yang penting dari sel sehingga menyebabkan ketidakteraturan rantai proses metabolisme. Senyawa berstruktur tidak spesifik menunjukkan aktivitas fisik denga karakteristik sebagai berikut:
a.         Efek biologis berhubungan langsung dengan aktivitas termodinamik, dan memerlukan dosis yang relatif besar.
b.        Walaupun perrbedaan struktur kimia besar, asal aktivitas termodinamik hampir sama akan memberikan efek yang sama.
c.         Ada keseimbangan kadar obat dalam biofasa dan fasa eksternal.
d.        Bila terjadi keseimbangan, aktivitas termodinamik masing-masing fasa harus sama.
e.         Pengukuran aktivitas termodinamik pada fasa ekternal juga mencerminkan aktivitas termodinamik biofasa.
f.         Senyawa dengan derajat kejenuhan yang sama, mempunyai aktivitas termodinamik sama sehingga derajat efek biologis sama pula. Oleh karena itu larutan jenuh dari senyawa dengan sruktur yang berbeda dapat memberikan efek biologis yang sama.

 Obat anestesi sistemik  
Yang berupa gas atau uap, seperti etil klorida, asetilen, nitrogen oksida, eter dan kloroform. Kadar isoanestesi bervariasi antara 0,05-100% sedang aktivitas termodinamik variasinya berkisar anatara 0,01-0,05% seperti pada tabel berikut:

Tabel : Hubungan kadar isoanestesi beberapa obat anestesi, yang berupa uap atau gas, dengan aktivitas termodinamik, pada manusia (pada suhu 37°C).
Nama Gas/Uap
P uap (Ps) mm
Kadar Anestesi
P parsial (Pt) mm
(a)    (Pt/Ps)
Nitrogen Oksida
Etilen
Asetilen
Etil Klorida
Etil eter
Vinil eter
Etil bromida
Kloroform

59.300
49.500
51.700
1.780
830
760
725
324

100
80
65
5
5
4
1,9
0,5

760
610
495
38
38
30
14
4

0,01
0,01
0,01
0,02
0,05
0,01
0,02
0,01

2.3.3    Insektisida
Yang mudah menguap dan bakterisida tertentu, seperti timol, fenol, kresol, n-alkohol dan resorsinol
Contoh : hubungan kadar bakterisid dari beberapa insektisida yang mudah menguap terhadap Salmonella typhosa dengan aktivitas termodinamik pada tabel berikut:


Nama Obat
Kadar bakterisid (St) Molar
Kalarutan (So) molar, 25°C
(a)
(St/So)
Timol
Oktanol
o-Kresol
Fenol
Anilin
Sikloheksanol
Metilpropilketon
Metiletilketon
Butiraldehid
Propaldehid
Resorsinol
Aseton
Matanol
0,0022
0,0034
0,039
0,097
0,17
0,18
0,39
0,25
0,39
1,08
3,09
3,89
10,8
0,0057
0,004
0,23
0,90
0,40
0,38
0,70
3,13
0,51
2,88
6,08
-
-
0,38
0,88
0,17
0,11
0,44
0,47
0,56
0,40
0,76
0,37
0,54
0,40
0,33

Pada tabel ini terlihat bahwa seri homolog n-alkohol primer kadar antbakteri dari metanol sampai oktanol berkisar antara 10,8-0,0034 molar sedang aktivitas termodinamiknya antara 0,33-0,88. Dengan membandingkan nilai St dan So dari metanol dan oktanoldapat diketahui bahwa obat yang aktivitasnya tinggi mempunyai kelarutan dalam air rendah atau kelarutan dalam lemak besar.

Senyawa Berstruktur Spesifik
Senyawa berstruktur spesifik adalah senyawa yang memberikan efeknya dengan mengikat reseptor atau aseptor yang spesifik.
Mekanisme kerjanya dapat melalui salah satu cara berikut ini:
a.         Bekerja pada enzim, yaitu dengan cara pengaktifan, penghambatan atau pengaktifan kembali enzim-enzim tubuh.
b.        Antagonis, yaitu antagonis kimia, fungsional, farmakologis atau antagonis metabolik.
c.          Menekan fungsi gen, yaitu dengan menghambat biosintesis asam nukleat atau sintesis protein.
d.        Bekerja pada membran, yaitu dengan mengubah membran sel dan mempengaruhi sistem transpor membran sel.

Aktivitas biologis senyawa berstruktur spesifik tidak bergantung pada aktivitas termodinamik, nilai a lebih kecil dari 0,01 , tetapi lebih bergantung pada struktur kimia yang spesifik. Kereaktifan kimia, bentuk, ukuran, dan pengaturan stereokimia molekul, distribusi gugus fungsional, efek induksi dan resonansi, distribusi elektronik dan interaksi dengan reseptor mempunyai eran yang menentukan untuk terjadinya aktivitas biologis.
Senyawa berstruktur spesifik mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a.         Efektif pada kadar yang rendah.
b.         Melibatkan keseimbangan kadar obat dalam biofasa dan fasa eksternal.
c.         Melibatkan ikatan-ikatan kimia yang lebih kuat dibandingkan ikatan pada senyawa yang berstruktur tidak spesifi.
d.         Pada keadaan kesetimbangan aktivitas biologisnya maksimal.
e.         Sifat fisik dan kimia sama-sama berperan dalan menentukan efek biologis.
f.         Secara umum mempunyai struktur dasar karakteristik yang bertanggung jawab terhadap efek biologis senyawa analog.
g.        Sedikit perubahan struktur dapat mempengaruhi secara drastis aktivitas biologis obat

Contoh obat berstruktur spesifik antara lain : Analgesik (morfin), antihistamin (difenhidramin), diuretika penghambat monoamin oksidase (asetazolamid) dan β – adrenergik (salbutamol). Pada senyawa berstruktur spesifik sedikit perubahan struktur kimia dapat berpengaruh terhadap aktivitas biologisnya.
Perbedaan antara senyawa berstruktur spesifik dan nonspesifik  tidak cukup dipandang dari satu atau dua perbedaan karakteristik senyawa tetapi harus dipandang sifat atau karakteristik secara keseluruhan. Sering pada obat tertentu tidak mempunyai struktur yang mirip tetapi menunjukkan efek farmakologis yang sama, dan perubahan sedikit struktur tidak mempengaruhi efek. Sebagai contoh adalah obat diuretik yang mempunyai struktur kimia sangat bervariasi, contoh turunan merkuri organik, turunan sulfamid, turunan tiazid, dan spironolakton. Sedikit modifikasi struktur tidak mempengaruhi aktivitas diuretik dari masing-masing turunan. Ini merupakan salah satu karakteristik dari senyawa berstruktur spesifik.
Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa obat diuretik menghasilkan respons farmakologis yang sama tetapi masing-masing turunan mempengaruhi proses biokimia yang berbeda, jadi mekanisme aksinya berbeda.
 
Turunan merkuri organik, seperti klormerodrin,  bekerja sebagai diuretik dengan mengikat gugus SH enzim Na, K-dependent ATP-ase, yang bertanggung jawab terhadap produksi energi yang diperlukan untuk reabsorpsi Na di membran tubulus, turunan sulfamid, seperti asetazolamid, bekerja dengan menghambat enzim karbonik anhidrase, turunan tiazid seperti hidroklorotiazid, menghambat reabsorpsi Na tubulus ginjal, dan spironolakton bekerja sebagai antagonis aldosteron, senyawa yang mengatur keseimbangan elektrolit dalam tubuh.
Fenomena di atas menunjang pengertian bahwa mekanisme aksi obat pada tingkat molekul dapat melalui beberapa jalan, dan ini memberikan penjelasan mengapa obat dengan tipe struktur berbeda dapat menunjukkan respons farmakologis yang sama. Sebanarnya sulit memisahkan antara senyawa berstruktur tidak spesifikdan spesifik karena banyak senyawa yang berstruktur spesifik, seperti antibiotika turunan penisilin, tidak berinteraksi secara spesifik dengan reseptor pada tubuh manusia, tetapi beinteraksi dengan reseptor spesifik yang terlibat pada proses pembentukan dinding sel bakteri. Jadi aktivitas antibakterinya terutama ditentukan oleh sifat kimia fisika seperti sifat lipofilik dan elektronik yang berperan pada proses distribusi obat sehingga senyawa dapat mencapai jaringan target dengan kadar yang cukup besar.


Penulis :
FATH YUNIKA LESTARI
Mahasiswi UMRI 


DAFTAR PUSTAKA


Aiache, J.M. (1993). Farmasetika 2 Biofarmasi. Edisi ke-2. Penerjemah: Dr. Widji Soeratri. Surabaya: Penerbit Airlangga University Press. Hal. 7.

Mutschler, E., 1991, Dinamika Obat, Edisi V, diterjemahkan oleh Widianto M.B., dan Rantai, A.S., 623-625, Penerbit TA Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Setiawati, A. (2007). Farmakokinetik Klinik. Dalam Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Jakarta: Penerbit Bagian farmakologi Fakultas Kedokteraan UI.

Siswandono. 2009. Hubungan Struktur, Kelarutan Dan Aktivitas Biologis Obat. Laboratorium Kimia Medisinal.

Tjay, T.H., Rahardja, K. (2002). Obat-obat Penting : Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi VI. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media Komputindo.

Waldon, D.J. (2008). Pharmacokinetic and Drug Metabolism. Cambridge:  Amgen, Inc., One Kendall Square, Building 1000, USA.

Tidak ada komentar:

Google Ads