Google ads

Kamis, 30 April 2015

Tablet



2.3.1  Defenisi
         Menurut Farmakope Indonesia  edisi IV tablet adalah sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Pemberian obat melalui mulut merupakan cara pemberian yang paling utama untuk memperoleh efek sistemik. Besar kemungkinan lebih dari 90 % obat untuk efek sistemik diberikan melalui mulut, maka sediaan padat (tablet) merupakan bentuk yang lebih disenangi (2,7).
         Defenisi lain dari tablet adalah sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaan rata atau cembung, mengandung satu jenis bahan obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan berfungsi sebagai pengisi, pembasah, pengikat, pengembang, pelicin atau zat lain yang cocok.
         Teknik pembuatan tablet dibagi dalam tiga cara pembuatan yaitu:
a. Granulasi Basah
      Granulasi basah merupakan metode tertua dalam pembuatan tablet, namun sampai saat ini masih tetap bertahan karena memiliki banyak keuntungan. Granulasi basah dapat meningkatkan daya kohesi serta kompresibilitas serbuk, meningkatkan laju alir, meningkatkan distribusi dan keseragaman obat. Pada dasarnya tiap bahan yang akan dibuat tablet harus memiliki dua karakteristik yaitu kemampuan mengalir dan dapat dicetak. Karena itu bahan tablet harus dalam bentuk fisik yang membuatnya dapat mengalir sempurna dan seragam. Bentuk fisik yang ideal adalah bulatan, karena dalam bentuk ini kontak antara permukaan bahan serta kontak dengan dinding mesin paling minim. Granulasi adalah proses yang bertujuan untuk meningkatkan aliran serbuk dengan jalan membentuknya menjadi bulatan-bulatan atau agregat dalam bentuk beraturan yang disebut granul. Tujuan granulasi selain menambah daya alir, juga meningkatkan kompresibilitas, menyeragamkan ukuran partikel, mengurangi serbuk atau debu, serta juga untuk mengontrol laju pelepasan obat.
      Pada granulasi basah, granul dibuat dengan jalan mengikat serbuk dengan suatu perekat. Teknik ini membutuhkan larutan, suspensi atau bubur yang mengandung suatu pengikat yang biasanya ditambahkan ke dalam campuran serbuk, namun bahan pengikat dapat ditambahkan kering dalam campuran serbuk dan cairan dapat di tambahkan sendiri.

b.Granulasi Kering
      Metode ini dilakukan jika bahan-bahan yang menjadi komponen peka terhadap kelembaban dan mudah rusak pada pemanasan yang tinggi selama pengeringan. Bahan-bahan yang akan digunakan langsung dicampur dan dicetak besar Kemudian tablet besar tersebut dihancurkan menjadi granul dan dilewatkan pada ayakan dengan ukuran tertentu, setelah itu baru ditambahkan pelicr dan penghancur luar baru dicetak jadi tablet.
c. Kempa Langsung
      Cara cetak langsung lebih disukai karena lebih efisien dan biaya rendah karena prosesnya lebih singkat dan cara ini menjadi pilihan utama untuk zat-zat yang memiliki kompresibilitas yang baik. Adapun zat yang stabilitasnya dipengaruhi oleh factor kelembaban dan pemanasan akan lebih disukai menggunakan cara ini. Metode cetak langsung dlakukan dengan mencetak langsung bahan aktif dan bahan tambahan lain tanpa melalui tahapan lebih dahulu. Lima keuntungan menggunakan metode cetak langsung adalah: ekonomis, eliminasi panas dan lembab sangat bermanfaat untuk zat aktif yang peka terhadap panas dan lembab, mempercepat disolusi, stabil, ukuran partikel lebih seragam dibanding dengan metode granulasi (12).



2.3.2  Jenis - Jenis Tablet


Jenis-jenis tablet adalah sebagai berikut:
a. Tablet kompresi
      Adalah tablet kompresi yang dibuat dengan sekali tekanan menjadi berbagai bentuk tablet dan ukuran, biasanya kedalam bahan obatnya ditambahkan sejumlah bahan pembantu.

b.Tablet kompresi ganda
      Adalah tablet kompresi berlapis, dalam pembuatannya memerlukan lebih dari satu kali tekanan. Hasilnya menjadi tablet dengan beberapa lapisan atau tablet di dalam tablet, lapisan dalamnya menjadi inti dan lapisan luarnya disebut kulit.
c. Tablet salut gula
      Adalah tablet kompresi yang mungkin diberi lapisan gula berwarna dan mungkin juga tidak, lapisan ini larut dalam air dan cepat terurai setalah ditelan.
d.            Tablet salut selaput
      Adalah tablet kompresi yang disalut dengan selaput tipis dari polimer yang larut atau tidak larut dalam air maupun membentuk lapisan yang meliputi tablet.
e. Tablet salut enterik
      Adalah tablet yang disalut dengan lapisan tidak larut atau hancur di dalam lambung tetapi larut atau hancur didalam usus.
f. Tablet sublingual atau bukal
      Adalah tablet yang disisipkan dibawah lidah biasanya berbentuk datar, tablet oral yang direncanakan larut dalam kantung pipi atau dibawah lidah untuk diabsorbsi mulalui mukosa oral
g.Tablet kunyah
      Adalah tablet lembut yang segera hancur ketika dikunyah atau dibiarkan melarut dalam mulut.
h.Tablet effervescent
      Adalah tablet berbuih dibuat dengan kompresi granul yang mengandung garam effervescent atau bahan-bahan lain yang mampu melepaskan gas ketika bercampur dengan air.

i.  Tablet triturat
      Adalah tablet yang bentuknya kecil dan biasanya silinder dibuat dengan cetakan atau dibuat dengan kompresi dan biasanya mengandung sejumlah kecil obat keras.
j.  Tablet hipodermik
      Adalah tablet yang penggunaanya untuk dimaksudkan dibawah kulit, merupakan tablet triturat asalnya dimaksudkan untuk digunakan oleh dokter dalam membuat larutan parenteral secara mendadak (12).



2.3.3  Syarat-Syarat Tablet


Syarat-syarat sediaan tablet adalah:
a.       Harus merupakan produk yang menarik serta bebas dari serpihan, keretakan, kelenturan, pemucatan kontaminasi dan lain-lain.
b.      Harus sanggup menahan goncangan mekanik selama produksi, pengepakan, dan distribusi.
c.       Harus mempunyai kestabilan kimia fisika untuk mempertahankan pertahanan fisiknya selama sepanjang waktu.
d.      Harus dapat melepaskan zat berkhasiat ke dalam tubuh dengan cara yang dapat diramalkan serta tetap dan dapat diulang.
e.       Harus stabil secara kimia sepanjang waktu sehingga tidak memungkinkan terjadi pemalsuan atau penurunan mutu zat berkhasiat (12).








2.3.4        Keuntungan dan kerugian


Keuntungan sediaan tablet adalah sebagai berikut:
a.       Tablet merupakan sediaan yang utuh dan menawarkan kemampuan terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah.
b.      Tablet merupakan sediaan dengan biaya pembuatan yang relatif murah.
c.       Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang ringan dan paling kompak.
d.      Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah dan murah untuk dikemas serta dikirim.
e.       Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah, tidak memerlukan pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul.
f.       Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal di tenggorokan, terutama bila bersalut yang memungkinkan pecah atau hancurnya tablet tidak segera terjadi.
g.      Tablet bias dijadikan produk dengan profil penglepasan khusus seperti penglepasan di usus atau produk lepas lambat.
h.      Tablet merupakan sediaan oral yang paling mudah untuk diproduk secara besar-besaran.
i.        Tablet merupakan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia, mekanik dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik.

Kerugian sediaan tablet adalah sebagai berikut:
a.       Beberapa obat tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak, tergantung pada keadaan amorf, flokulasi atau rendahnya berat jenis.
b.      Obat yang sukar dibasahkan, lambat melarut, dosisnya cukupan atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran cerna atau setiap kombinasi dari sifat di atas akan sukar atau tidak mungkin di formulasi dan di fabrikasi dalam bentuk tablet yang menghasilkan bioavaibilitas obat cukup.
c.       Obat dengan bau yang tidak dapat dihilangkan, obat yang rasanya pahit atau obat yang peka terhadap oksigen atau kelembaban udara perlu pengkapsulan atau penyelubungan dulu sebelum dikempa atau memerlukan penyalutan dulu (12).
3.1        Pembuatan  dan Pengujian Tablet
                                   

      Sebelum dilakukan pembuatan tablet maka mutu bahan baku harus di uji terlebih dahulu. Tahap - tahap pengujian awal, pembuatan dan evaluasi tablet :
1. Mutu bahan baku , pati ganyong, Mg stearat, amylum, talk, laktosa.
2. Evaluasi sifat fisika
 Evaluasi sifat fisika Alopurinol yang dilakukan melaului evaluasi waktu alir, sudut diam dan kompresibilitas.
3. Proses pragelatinisasi pati ganyong
 Pati ganyong yang terpragelatinasi dibuat dengan tahapan sebagai berikut:
a)      Pati ganyong dibuat dengan penambahan air  terhadap bobot kering pati ganyong sehingga terbentuk pasta pati.
b)      Pasta pati dikeringkan dengan menggunakan drum dryer pada suhu 70 o C sehingga diperoleh lempengan tipis.
c)      Lempengan tipis yang diperoleh digiling kemudian diayak.
4. Evaluasi pati ganyong terpragelatinasi
 Evaluasi pati ganyong terpragelatinasi meliputi pH, susut pengeringan, zat-zat pengoksidasi, kadar air, waktu alir, sudut diam dan kompresibilitas.
5. Pembuatan tablet secara granulasi basah
a)      Siapkan alat dan timbang bahan
b)       ditambahkan fase dalam (amilum dan laktosa) campur sampai homogen
c)      Buat larutan pengikat:
Pati ganyong terpragelatinasi dilarutkan dalam sebagian air yang telah dipanaskan kemudian ditambah sisa air yang tidak dipanaskan, aduk sampai homogen.
d)     Campuran  dan fase dalam dicampur dengan larutan pengikat, aduk homogen sampai terbentuk massa granul.
e)      Ayak massa granul dengan mesh No.12
f)       Keringkan di lemari pengering suhu 40 – 60 o C selama 1 jam, kemudian ayak lagi dengan mesh No.16 sehingga diperoleh massa granul yang seragam.
g)      Evaluasi  granul
1)      Kadar lembab
      Timbang saksama 5,0 g granul masukkan dalam lemari pengering sampai bobot tetap/konstan (suhu 40 – 60oC). Timbang kembali massa granul.

            % kerenyahan =

W1 = Bobot granul awal.
W2 = Bobot granul setelah pengeringan
Syarat : 3 – 5 % (5).
2). Sifat alir
                                            i.Cara langsung
            Timbang 25 g granul tempatkan pada corong alat uji waktu alir dalam keadaan tertutup. Buka penutupnya biarkan granul mengalir, catat waktunya dengsn menggunakan stop watch. Satuan waaktu alir g/detik
            Syarat: waktu alir 100 g serbuk < 10 detik atau kecepatan alir > 10 g/detik(12). Sudut diam < 25o: sangat baik. 25 – 30 o: baik, 30 – 40o : cukup baik sedangkan > 40 : tidak baik(15).
Sudut baring ≤ 30o : granul dapat mengalir bebas dan bila sudut baring ≥ 40 o : daya mengalir kurang baik.


                                          ii.Cara tidak langsung
            Pada cara 1 (cara langsung) granul ditampung pada kertas grafik mm catat tinggi (h) dan diameter unggukan granul, hitung sudut istirahat mengguankan persaman berikut:
                                    Kp :
Kp       : Persen pemanpatan ~ Kompresibilitas
V0        : Volume awal
Vn        : Volume pada tiap jumlah ketukan
Syarat  : 5 -15 % sangat baik
             12 -16 % Baik
       18 -24 % agak baik
       25 -35 % Buruk
       33 -38 % burk sekali
      >40 % Sangat buruk
3.)    Kompresibilitas
      Timbang 100 g granul, masukkan dalam gelas ukur dari alat joulting volumeter. Catat volumenya. Hidupkan motor, hitung hingga 10 X ketukan, ata volumenyalakukan selanjutnya pada 50, 100 dan 500 ketukan.
Hitung persentase kompresibilitas.
h)      Jika memenuhi syarat massa granul yang diperoleh dicampur dengan fase luar (amilum, talk dan Mg.stearat) sampai homogen terbentuk massa siap cetak.
i)        Pemeriksaan cetak awal
j)        Pencetakan tablet .

6.      Evaluasi tablet alopurinol
      Pengujian kualitas tablet  hasil produksi meliputi:
1.Uji Kekerasan Tablet
Sebanyak 20 tablet, masing-masing dijepit dengan menekan tombol sampai tablet pecah, angka yang ditunjukkan oleh alat hardness tester merupakan angka kekerasan tablet.
Syarat : 4 – 8 kg/cm2 (4).
2.Uji Keregasan Tablet (Friabilitas)
         Sebanyak 20 tablet yang telah dibersihkan dengan kuas halus ditimbang, kemudian dimasukkan ke dlaam alat friabilator lalu diputar dengan kecepatan 25 rpm sebanyak 100 putaran. Tablet dikeluarkan, dibersihkan kembali, lalu ditimbang. Hitung persentase keregasan dengan menggunakan rumus :


 
            % keregasan =

W1 = Bobot tablet sebelum dilakukan pengujian.
W2 = Bobot tablet setelah dilakukan pengujian.
Syarat : F ≤ 0,8 % (13).
   ≤ 0,5 – 1 % (5).
  1. Uji Keseragaman Ukuran
            Sebanyak 20 tablet digunakan sebagai contoh. Tebal dan diameter diukur menggunakan jangka sorong. Hitung rata-rata dan standar deviasinya.
Syarat : kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari 3 x dan tidak kurang dari 1 1/3 tabal tablet (12).


  1. Uji Keragaman Bobot
            Ditimbang saksama 10 tablet satu persatu dengan menggunakan timbangan analitik dan dihitung bobot rata- ratanya. Dari hasil penetapan kadar, dihitung jumlah zat aktif dari masing-masing tablet dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen (4).
  1. Uji Waktu Hancur
            Sebanyak 6 tablet dimasukkan kedalam jkeranjang alat uji waktu hancur. Kemudian keranjangdimasukkan ke dalam wadah berisi kurang lebih 1L medium dengan suhu 37o ± 2o C. alat dijalankan hingga tidak ada lagi obat yang tertinggal dikeranjang dan dicatat waktunya.
Syarat : kecuali dinyatakan lain waktu yang diperlukan untuk menghancurkan keenam tablet tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut selaput (2).
  1. Uji Disolusi
            Dilakukan dengan metode dayung dalam 900 ml larutan medium disolusi asam klorida 0,1 N dengan suhu 37o ± 0,5o C dengan kecepatan 75 rpm. Pipet 10,0 ml larutan pada interval waktu 5, 10, 15, 30, 45, dan 60 menit ke dalam galas piala, lalu larutan tersebut di pipet 2,0 ml setiap pengambilan larutan diganti dengan 10,0 ml larutan disolusi asam klorida 0,1 N yang bersuhu sama. Ukur serapan pada panjang gelombang maksimum  da n kada  terlarut dihitung dengan menggunakan persamaan regresi (13, 14).


7        Penetapan kadar tablet
            Penetapan kadar  tablet dengan cara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi yaitu:
1)      Larutan baku
Timbang seksama lebih kurang 50 mg , masukan ke dalam labu terukur 50-ml, tambahkan 10 ml natrium hidroksida 0,1 N, kocok selama 10 menit, encerkan dengan air sampai tanda. Masukkan 4,0 ml larutan ini dan 2,0 ml larutan baku internal ke dalam labu terukur 200-ml, encerkan dengan fase gerak sampai tanda. Buat larutan pada saat akan digunakan.
2)      Larutan uji
Timbang dan serbukan tidak kurang dari 20 tablet . Timbang seksama sejumlah serbuk setara dengan lebih kurang 50 mg  , masukkan ke dalam labu terukur 50-ml, tambahkan 10 ml natrium hidroksida 0,1 N, kocok selama 10 menit, tambahkan air sampai tanda. Saring, buang 10 ml filtrat pertama. Masukkan 4,0 ml filtrat dan 2,0 ml larutan baku internal ke dalam labu terukur 200-ml, encerkan dengan fase gerak sampai tanda.
            Lakukan kromatografi terhadap larutan baku dan larutan uji. Suntikan secara terpisah sejumlah volume sama lebih kurang 15 ml larutan baku dan larutan uji ke dalam kromatograf, ukur tinggi puncak utama. Waktu retensi relatif dari hipoksntin 0,6 dan  1,0. Hitung jumlah dalam mg, C3H4N4O (2)
7.Pengemasan
   Strip/blister yang telah selesai diisi tablet kemudian diberi etiket dan dikemas.


Tidak ada komentar:

Google Ads