Google ads

Jumat, 18 Januari 2013

MANFAAT SUPLEMENTASI VITAMIN DAN MINERAL

Seiring kemajuan pembangunan nasional termasuk sektor ekonomi, industri dan kesehatan terutama di kota-kota besar di Indonesia, dari suatu kajian mutakhir tentang kecenderungan pembangunan kesehatan di Indonesia, telah terjadi pola perubahan penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif.  Konsekuensi dan implikasinya juga luas menyangkut perubahan pelayanan kesehatan dan kedokteran serta sarananya menjelang pergantian abad menuju abad ke 21. Perubahan di atas disebut transisi epidemiologi sebagai akibat transisi demografi.
Kajian data Survei Kesehatan Rumah Tangga di Indonesia yang mutakhir memperlihatkan bahwa prevalensi penyakit jantung, kanker meningkat menduduki urutan di atas penyakit-penyakit infeksi yang cenderung menurun. Kemajuan perkembangan ilmu gizi serta penerapannyadi Indonesia melalui UPGK dan Posyandu lebih diprioritaskan bagi golongan penduduk dengan masalah gizi utama meliputi penyakit defisiensi seperti penyakit Kekurangan Kalori Protein (KKP), defisiensi vitamin A, anemi defisiensi besi dan penyakit defisiensi yodium; namun dalam Pelita VI antisipasi ke arah sasaran penyakit degeneratif akan lebih mendapat perhatian pemerintah dan masyarakat.
Pendidikan gizi dan upaya perbaikan pangan dan gizi yang mengacu pada perilaku pola makan yang benar dan baik dicerminkan melalui slogan Empat Sehat Lima Sempurna, Program Penganekaragaman Menu Makanan Rakyat, Gerakan Kesadaran Pangan dan Gizi Nasional; dari pengalaman empiris, pendekatan teknologi intervensi suplementasi dengan vitamin A, yodium dan Fe merupakan tindakan preventif kesehatan masyarakat yang sudah sejak lebih dari 20 tahun dilaksanakan di Indonesia dan juga di luar negeri. Dengan kemajuan ilmu biologi molekuler dan ilmu gizi, akkhir-akhir ini teori radikal bebas pesat berkembang yang memberi perspektif baru dalam penerapannya dibidang ilmu gerontologi maupun dalam menunjang penanggulangan penyakit denegeratif lainnya.
Uraian berikutnya akan mengemukakan alasan-alasan rasional penggunaan suplemen yang selalu menjadi pertanyaan tidak saja bagi masyarakat awam, tapi juga di kalangan profesi kedokteran, kesehatan dan gizi.

Pendekatan Suplementasi Vitamin Mineral Dalam Program Kesehatan Masyarakat Dan Prospek Hasil Penelitian.
Dalam penanggulangan kebutuhan akibat defisiensi vitamin A, diberikan kapsul lunak 200.000 IU vitamin A setiap 6 bulan kepada anak prasekolah 1-- 5 tahun sejak tahun 1972, termasuk di daerah pedesaan melalui Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK), Posyandu. Dalam rangka penanggulangan anemi defisiensi besi pada kehamilan sejak lama pula melalui UPGK dan Posyandu diberikan pil ferrosulfat dan asam folat dengan takaran 60 mg dan 500 mcg masing-masing setiap hari selama terutama semester ke III kehamilan. Juga dalam penanggulangan defisiensi yodium sedang dicari alternatif; di samping injeksi lipiodol diberikan kapsul yodium sebagai suplemen di daerah gondok endemik(3,4) Pengalaman serupa dianjurkan oleh International Vitamin A Consultative Group (IVACG) dan Internatonal Nutritional Anemia Consultative Group (INACG) di negara-negara berkembang dengan dukungan WHO dan USAID (5-8). Uraian di atas mengemukakan pendekatan suplementasi terutama untuk menanggulangi penyakit difisiensi gizi utama yang biasanya beban biaya ditanggung oleh pemerintah negara berkembang.
Bagaimana gambaran di negara industri maju seperti Amerika, Eropa dalam rangka penanggulangan penyakit degeneratif ?
Pengalaman empiris di luar negeri mengungkapkan bahwa 40% dari penduduk dewasa di Amerika menggunakan suplementasi vitamin mineral, meskipun penyediaan pangan dan gizi berlimpah. Suatu hal yang kontroversial di kalangan gizi dan kedokteran, apakah suplementasi vitamin mineral selalu diperlukan ?. Hasil penelitian mutakhir makin banyak mengindikasikan azas manfaatnya bila digunakan dalam kondisi tertentu secara layak dengan indikasi yang tepat di bawah pengawasan profesi kedokteran dan kesehatan; suplementasi vitamin mineral telah dibuktikan di Inggris dapat mencegah kelainan kongenital bibir sumbing (cleft palate) dan kelainan tabung saraf (neural tube defect) pencegahan penyakit kardiovaskular dan kanker, mencegah proses penuaan, katarak, penyakit Parkinson.

Rasional Suplementasi Zat-Zat Gizi

Dari pengalaman di dalam negeri dan mengacu pada rujukan luar negeri dapat dikemukakan bahwa rasional penggunaan suplemen sangat bervariasi dari penggunaan untuk tujuan pencegahan, pengobatan sampai pada tujuan rehabilitasi suatu kondisi penyakit; pemberian vitamin A dosis masif oral atau dosis tinggi bisa mencegah kebutaan, tapi juga dapat merupakan pengobatan stadium tertentu xerophthalmia; bahkan cenderung mencegah morbiditas dan mortalitas anak di negara berkembang.

Umumnya landasan rasional dapat dirinci sebagai berikut :
(1) Mengacu pada kajian ketiga faktor utama yaitu bila aspek individu (host), agen (penyebab) dan lingkungan tidak bisa dikendalikan, maka salah situ pintu masuk (entry point) ialah meningkatkan status individu dengan jalan suplementasi;
(2) Suplementasi berfungsi mengatasi defisit RDA yang sudah ada, sebagai pelengkap bukan sebagai substitusi;
(3) Dalam situasi tertentu memang mutlak diperlukan seperti diuraikan dalam karangan lain penulis ini tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan zat gizi;
(4) Faktor kondisi penyakit, umur, kegiatan merupakan pertimbangan yang sangat penting;
(5) Dari pertimbangan-pertimbangan di atas menentukan jumlah takaran, lamanya serta keamanan penggunaannya;
(6) Khusus tentang pencegahan dan dukungan terapi, pertimbangan sifat biochemical
individuality dengan histokompabilitasnya merupakan pendekatan khususnya dalam pemecahan masalah penyakit degeneratif

Indikasi Tepat

Dari uraian di atas indikasi yang tepat menurut kondisi individu ditinjau dari aspek keadan gizi, kondisi penyakit, perilaku hidup, kualitas lingkungan diarahkan pada penggunaan suplementasi vitamin mineral dengan komposisi zat gizi yang sesuai, takaran dan lama pemberian yang tepat. Secara makro strategi suplementasi terutama pada golongan penduduk yang biologis dan sosio-ekonomi rawan seperti anak prasekolah, wanita hamil, manula, kondisi lingkungan yang buruk seperti pekerja barat dengan faktor stres, cabang olahraga yang berat seperti maraton, lingkungan yang tercemar dengan zat-zat polutan yang dapat mempengaruhi keadaan gizi dan kesehatan. Kategori ke tiga: Individu atau penderita dengan kebutuhan gizi khusus seperti :
1) diet rendah kalori,
2) perokok dan peminum alkohol berat,
3) pengguna medikasi yang lama seperti obat-obat antituberkulosis, antikonvulsi, antimalaria, kontrasepsi steroid, antibiotik, sedatif, obat penurun kolesterol yang dapat menyebabkan defisiensi jenis-jenis vitamin mineral tertentu Kategori ke empat mendukung pelayanan medis untuk tujuan pemulihan dan penyembuhan sebagai ajuvan di rumah sakit. Pelayanan dietetik perlu diutamakan, namun tidak jarang (30%) penderita masuk rumah sakit dengan keadaan gizi kurang pada kasus di negara makmur seperti Amerika, sehingga daya tahan tubuh (imunitas) berkurang dan proses pemulihan terhambat, seperti pada penyembuhan luka
Indikasi yang tepat menurut penilaian profesi kedokteran adalah dasar proses keputusan pemberian suplementasi vitamin mineral.

Tidak ada komentar:

Google Ads