Google ads

Jumat, 18 Januari 2013

Diabetes melitus



Diabetes melitus (DM) adalah suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta langerhans kelenjer pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO,1999).
Gejala utama diabetes yaitu polifagia (meningkatnya rasa lapar), polidipsia (meningkatnya rasa haus), dan poliuria (meningkatnya buang air kecil), serta kehilangan berat badan terutama pada diabetes tipe 1 (DiPiro, 2005).
Menurut kriteria diagnostik Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI ) 2006, seseorang dikatakan diabetes jika memiliki kadar gula darah puasa >126 mg/dl dan pada tes sewaktu >200 mg/dl.
Tabel 1. Kadar gula darah sewaktu dan puasa dengan metode enzimatik sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dl)

Bukan DM
Belum pasti DM
DM
Kadar glukosa darah sewaktu:
         Plasma vena
         Darah kapiler

<110
<90

110-199
90-199

>200
>200
Kadar glukosa darah puasa:
         Plasma vena
         Darah kapiler

<110
<90

110-125
90-109

>126
>110
2.4.1. Klasifikasi Diabetes Melitus
Klasifikasi etiologis diabetes melitus menurut American Diabetes Association (ADA) 2003 yaitu diabetes melitus tipe 1, diabetes melitus tipe 2, diabetes melitus tipe lain dan diabetes gestasional.
1. Diabetes melitus tipe 1
Diabetes melitus tipe 1 disebabkan oleh pengrusakan autoimun pada sel sel beta pankreas. Diabetes melitus tipe ini biasanya terjadi pada anak-anak, remaja dan dapat ditemukan pada berbagai usia. Umumnya pada anak-anak atau usia muda pengrusakan sel-sel beta pankreas lebih cepat sehingga menyebabkan ketoasidosis, sedangkan pada orang dewasa untuk mencegah terjadinya ketoasidosis, seringkali pengeluaran insulin harus dijaga (DiPiro, 2005).
2. Diabetes melitus tipe 2
Penderita diabetes tipe 2 mempunyai sirkulasi endogen cukup untuk mencegah terjadinya ketoasidosis tetapi insulin tersebut sering dalam kadar yang kurang normal atau kadarnya relatif tidak mencukupi karena kurang pekanya jaringan untuk memproduksi insulin. Selain terjadi penurunan kepekaan jaringan pada insulin, terjadi pula defisiensi respon sel beta pankreas terhadap glukosa. Seseorang dengan diabetes tipe ini mungkin tidak memerlukan insulin, namun 30% atau lebih akan memerlukan insulin untuk mengontrol kadar glukosa darah. 10-20% penderita diabetes tipe 2 akan berubah menjadi penderita diabetes tipe 1 dan akhirnya akan membutuhkan insulin secara penuh (Katzung, 2002).
3. Diabetes melitus tipe lain
Pada diabetes tipe lain, hiperglikemia berkaitan dengan penyakit-penyakit lain yang jelas. Penyakit tersebut meliputi penyakit eksokrin pankreas, defek genetik fungsi sel beta, defek genetik fungsi insulin, endokrinopati, karena obat/ zat kimia, infeksi, imunologi, dan sindrom genetik (ADA, 2003).
4. Diabetes melitus gestasional
Diabetes gestasional merupakan istilah yang digunakan untuk wanita yang menderita diabetes selama kehamilan. Diabetes gestasional biasanya terjadi pada trisemester terakhir kehamilan dan memiliki patofisiologi yang mirip dengan diabetes tipe 2. 30-50% penderita diabetes melitus gestasional menjadi penderita diabetes melitus tipe 2 dalam kurun waktu 10 tahun (Davey, 2005).

Tidak ada komentar:

Google Ads